Aku tidak tahu apakah kalian sudah menyadari sebuah pola: order yang menghasilkan uang, selalu membuatmu berlari dengan sangat cepat; sedangkan order yang membuat rugi, justru bisa kau tahan dengan waktu yang lama.
Saat naik 5%, kamu mulai gelisah—takut koreksi, takut profit hilang—lalu cepat-cepat menjual. Setelah dijual, kamu melihat harga terus naik, lalu menepuk kepala sendiri. Lalu bagaimana kalau turun? Jika turun 5% kamu tidak pergi, turun 10% masih bertahan, turun 20% malah tidak mau melihatnya lagi, dan di dalam hati cuma berdoa, "pasti akan kembali". Akhirnya kamu makin terjerat, dari short line berubah jadi long line, dari trader berubah jadi pemegang saham.
Dulu aku juga seperti itu. Order yang untung tidak bisa ditahan, order yang rugi malah dipaksa bertahan. Kemudian aku menghitung semuanya dan aku kaget: dari sepuluh kali transaksi, aku benar enam kali dan salah empat kali—secara teori harusnya untung, kan? Tapi hasilnya malah rugi. Kenapa? Karena saat menang, aku hanya mengamankan sedikit lalu langsung kabur; saat rugi, begitu rugi langsung kebagian besar.
Setelah memahaminya, aku pun mengubah cara: order yang untung jangan terburu-buru pergi, biarkan profit terbang dulu; order yang rugi jangan dipaksa bertahan—potong saja kalau memang harus dipotong. Kedengarannya mudah, tapi saat dijalankan sulit, karena sifat manusia suka imbal hasil yang pasti, dan benci kerugian yang pasti.
Tapi dalam trading, memang dasarnya berlawanan dengan naluri manusia.
Kalau kamu mengikuti naluri, maka kamu akan mengikuti jalan untuk rugi.
Pukul empat sore, di ruang obrolan kita ngobrol tentang "bagaimana cara bisa memegang order yang profit"—semua itu adalah pengalaman yang lahir dari kerugian. Yang tertarik, silakan duduk.

$BTC #BinanceSquare #交易心得 #交易心态