Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh American Automobile Association (AAA) pada Sabtu lalu, harga rata-rata solar di AS secara resmi telah menembus angka 6,50 USD per galon, mencapai rekor 6,505 USD per galon. Yang patut dicatat, kenaikan yang semakin kencang ini terjadi dalam waktu kurang dari 10 hari setelah menembus ambang 6 USD, sehingga total kenaikan pada bulan September mencapai lebih dari 87 sen dan melampaui puncak historis tahun 2022 akibat eskalasi dari perang.

Lonjakan harga bahan bakar untuk transportasi merupakan indikator yang sangat berisiko bagi permasalahan inflasi. Diesel adalah nadi dari rantai pasok dan pengangkutan barang global. Ketika biaya energi meningkat dengan kecepatan rekor, tekanan untuk menaikkan harga akan segera meresap ke indeks CPI pada bulan-bulan mendatang, sehingga secara langsung mengancam upaya bank sentral untuk mendinginkan inflasi.

Di pasar keuangan tradisional, lonjakan yang mengejutkan ini menguatkan skenario bahwa The Fed dan para pembuat kebijakan harus mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer). Imbal hasil obligasi pemerintah AS kemungkinan besar akan bertahan di level tinggi, dolar AS mendapat dukungan dari kekuatan, sementara pasar saham menghadapi risiko penurunan margin keuntungan perusahaan yang tergerus kuat.

Bagi pasar crypto, tekanan makro yang kembali muncul dapat membuat arus dana spekulatif menjadi lebih hati-hati dalam jangka pendek. Tekanan likuiditas secara umum dari kebijakan moneter yang ketat akan mengekang laju lonjakan $BTC dan altcoin, sehingga memaksa investor untuk bersiap menghadapi lonjakan volatilitas yang tajam ketika data CPI berikutnya akan diumumkan.

#EnergyCrisis #Inflation #MacroEconomy