🚨 RWA on-chain menembus US$341,8 miliar, naik 85,2% sepanjang tahun; yang benar-benar dipakai hanya 12%
Grup: 点击进入玖玖的粉丝群
Pertama, saya buat dulu sebuah penilaian: kemacetan sebenarnya tokenisasi bukan pernah di tahap penerbitan, melainkan setelah uangnya masuk ke blockchain, lalu dipakai untuk apa.
Berdasarkan statistik terbaru, nilai aset riil di dunia on-chain per 15 September sudah mencapai US$341,8 miliar, naik 85,2% sepanjang tahun. Kedengarannya sangat dahsyat, tapi kalau diurai ada angka yang lebih mencolok: hanya sekitar 12% aset tokenisasi yang benar-benar dideploy ke aplikasi keuangan on-chain.📊
Mari bahas lapisan pertama: yang menopang skala adalah wajah lama. Obligasi dan reksa dana pasar uang saja menyumbang US$182,9 miliar, menyumbang sebagian besar kenaikan tambahan tahun ini. Dari sudut pandang lain, yang dipasang di on-chain sebagian besar masih yang paling tradisional—pendapatan tetap; institusi masuk biasanya lebih dulu memilih hal yang mereka pahami.
Lalu lapisan kedua: pertumbuhan tercepat adalah saham tokenisasi. Kenaikan year-to-date mencapai 390,4%, dan porsinya di RWA sudah menanjak ke 13,0%. Jalur ini terkait langsung dengan regulasi: pengaturan pengecualian SEC memungkinkan venue on-chain berizin yang patuh untuk memperdagangkan saham AS yang ditokenisasi secara terbatas; jendela waktunya masih sementara.⚖️
Lapisan ketiga: struktur yang tidak sinkron. Dari sisi penerbitan, semuanya ngebut, tapi sisi aplikasi justru tertinggal setengah langkah. Perhitungan dari analis lembaga riset bursa besar: dari aset tokenisasi yang dipantau, hanya sedikit lebih dari satu per sepuluh yang benar-benar digunakan untuk dijadikan agunan, pinjaman, atau dijalankan sebagai likuiditas; sisanya sebagian besar hanya mengganti bentuk dan “diam” saja. Penerbitan hanya butuh satu lembar kontrak, sementara agunan dan pinjaman perlu para pihak lawan, kliring, dan manajemen risiko—pembangunannya jauh lebih lambat.💡
Tentu, ada juga yang berpendapat bahwa pada tahap awal memang seharusnya menimbun aset dulu lalu membangun aplikasi; berbaring dulu bukan masalah. Argumen itu ada benarnya, tapi kalau dua tahun kemudian proporsinya masih tetap seperti ini, berarti keuangan on-chain belum “menangkap barang” yang sudah dipaketkan.
Pendapat saya sendiri: yang benar-benar layak dicermati bukan berapa besar total skala yang terus naik, melainkan kapan 12% itu berubah menjadi 30%. Kalau dalam beberapa tahun ke depan mayoritas aset masih hanya berbaring di on-chain sebagai etalase, itu pada akhirnya tidak beda jauh dengan kustodian tradisional. Sebuah kubu bilang ini ritme alami dari infrastruktur; kubu lain bilang ini peringatan kurangnya permintaan—Anda ada di kubu yang mana?👀
Klik foto profil untuk menonton live + bergabung ke grup obrolan Jiu Jiu untuk mendapatkan strategi harian🚀
#RWA #比特币 #机构资金
Grup: 点击进入玖玖的粉丝群
Pertama, saya buat dulu sebuah penilaian: kemacetan sebenarnya tokenisasi bukan pernah di tahap penerbitan, melainkan setelah uangnya masuk ke blockchain, lalu dipakai untuk apa.
Berdasarkan statistik terbaru, nilai aset riil di dunia on-chain per 15 September sudah mencapai US$341,8 miliar, naik 85,2% sepanjang tahun. Kedengarannya sangat dahsyat, tapi kalau diurai ada angka yang lebih mencolok: hanya sekitar 12% aset tokenisasi yang benar-benar dideploy ke aplikasi keuangan on-chain.📊
Mari bahas lapisan pertama: yang menopang skala adalah wajah lama. Obligasi dan reksa dana pasar uang saja menyumbang US$182,9 miliar, menyumbang sebagian besar kenaikan tambahan tahun ini. Dari sudut pandang lain, yang dipasang di on-chain sebagian besar masih yang paling tradisional—pendapatan tetap; institusi masuk biasanya lebih dulu memilih hal yang mereka pahami.
Lalu lapisan kedua: pertumbuhan tercepat adalah saham tokenisasi. Kenaikan year-to-date mencapai 390,4%, dan porsinya di RWA sudah menanjak ke 13,0%. Jalur ini terkait langsung dengan regulasi: pengaturan pengecualian SEC memungkinkan venue on-chain berizin yang patuh untuk memperdagangkan saham AS yang ditokenisasi secara terbatas; jendela waktunya masih sementara.⚖️
Lapisan ketiga: struktur yang tidak sinkron. Dari sisi penerbitan, semuanya ngebut, tapi sisi aplikasi justru tertinggal setengah langkah. Perhitungan dari analis lembaga riset bursa besar: dari aset tokenisasi yang dipantau, hanya sedikit lebih dari satu per sepuluh yang benar-benar digunakan untuk dijadikan agunan, pinjaman, atau dijalankan sebagai likuiditas; sisanya sebagian besar hanya mengganti bentuk dan “diam” saja. Penerbitan hanya butuh satu lembar kontrak, sementara agunan dan pinjaman perlu para pihak lawan, kliring, dan manajemen risiko—pembangunannya jauh lebih lambat.💡
Tentu, ada juga yang berpendapat bahwa pada tahap awal memang seharusnya menimbun aset dulu lalu membangun aplikasi; berbaring dulu bukan masalah. Argumen itu ada benarnya, tapi kalau dua tahun kemudian proporsinya masih tetap seperti ini, berarti keuangan on-chain belum “menangkap barang” yang sudah dipaketkan.
Pendapat saya sendiri: yang benar-benar layak dicermati bukan berapa besar total skala yang terus naik, melainkan kapan 12% itu berubah menjadi 30%. Kalau dalam beberapa tahun ke depan mayoritas aset masih hanya berbaring di on-chain sebagai etalase, itu pada akhirnya tidak beda jauh dengan kustodian tradisional. Sebuah kubu bilang ini ritme alami dari infrastruktur; kubu lain bilang ini peringatan kurangnya permintaan—Anda ada di kubu yang mana?👀
Klik foto profil untuk menonton live + bergabung ke grup obrolan Jiu Jiu untuk mendapatkan strategi harian🚀
#RWA #比特币 #机构资金
