Biaya transaksi pada satu rantai turun hingga 97%, sementara jumlah transaksi hanya turun enam persen. Melihat ini, rasanya tidak seperti bisnis.

Rata-rata biaya tujuh hari turun 82%, namun di rantai masih ada sekitar 1,5 miliar dolar AS per hari yang berpindah tangan. Artinya, lalu-lalang orang tidak berkurang; hanya saja uang yang dipungut di depan berkurang. Ketika biaya bisa turun sejauh ini, pengalaman pengguna di sisi mereka memang membaik. Volume pergantian sudah jelas ada di sana—ini menunjukkan jalur tersebut masih dipakai, hanya saja pos pungutannya kini berubah jadi gratis.

Secara logika, jika biaya turun, biasanya berarti tidak ada yang memakai lagi, atau ada pihak di belakang yang membayar untuk semua orang. Yang pertama akan terlihat pada jumlah transaksi; tapi kali ini jumlah transaksi hampir tidak berubah, jadi hanya ada satu kemungkinan: opsi kedua. Subsidi seperti ini, jika ditulis di laporan keuangan disebut biaya pemasaran; jika ditulis di rantai, itu berarti diberikan cuma-cuma.

Yang menarik, justru ini kabar baik untuk pengguna. Dengan operasi yang sama, biayanya lebih rendah, sehingga orang yang mau datang setiap hari akan lebih banyak. Masalahnya: keramaian ini tidak otomatis berhubungan dengan pendapatan. Orang yang datang lebih sering itu memang kabar baik—tapi itu juga memindahkan biaya ke masa depan. Nanti saat subsidi benar-benar berhenti, barulah diketahui siapa yang benar-benar datang sendiri untuk membeli. Untuk platform sendiri juga sama: perhitungan yang sama berlaku. Bisnis perantara mengandalkan arus lalu lintas; kalau di rantai bisa menghemat biaya, barulah orang bersedia bertahan.

Yang perlu diperhatikan adalah sebuah kombinasi: ketika biaya naik lagi, jumlah transaksi tidak boleh ikut turun. Langkah ini tepat, barulah bisa membuktikan bahwa permintaannya memang nyata.

Pintu masuk yang gratis paling penuh—dan paling sedikit yang membayar sewa.

#链上数据 #L2