Di grup ada satu kakak, dulu di Chengdu kerja wedding photography. Angkat alat sudah tujuh atau delapan tahun, sampai muncul masalah di tulang leher. Sudah kumpul sekitar empat puluh sekian juta, semula rencana mau ganti perangkat yang lebih bagus dan beli mobil.

Tahun lalu, saat gelombang pasar lagi naik-turun itu, dia tidak mau cuma lihat saja. Mulanya urusan spot, lalu kemudian ikut kontrak. Aku dengar dia pernah bilang satu kalimat: saat paling gila, dalam semalam saldo akun bisa bertambah enam digit, orang duduk di depan komputer, tangannya gemetar. Setelah itu, suatu kali kena tusukan—dia langsung tersapu di titik terendah. Lalu dia tidak mau menyerah dan nambah lagi; sudah nambah, malah turun lagi. Uang empat puluh sekian juta tinggal kurang dari tiga puluh ribu, dan dia masih punya utang lebih dari seratus ribu kepada kerabat.

Ada masa dia menghapus software trading. Kalau ada yang membahas kondisi pasar, dia langsung marah. Siang motret pernikahan orang, malam edit foto. Seminggu kerja enam sampai tujuh hari.

Bagiannya berbalik itu terasa sangat datar. Uang untuk biaya ibunya yang dirawat di rumah sakit dipinjam dari orang lain. Setelah dia pulang, dia ambil selembar kertas A4, menulis tiga aturan pribadinya, lalu ditempel di dekat monitor. Setelah itu dia cuma menyisakan sedikit posisi, selesai kerja langsung pergi jogging, tidak begadang lagi. Pelan-pelan, selama setahun, utangnya terbayar banyak. Soal akunnya bisa kembali modal atau tidak, dia tidak pernah membahas; yang jelas tidak pernah lagi melakukan all-in.

Dia punya satu kalimat yang masih aku ingat dengan jelas: uang yang bisa kamu tidur nyenyak, barulah itu uang milikmu.

Di sekitarmu ada nggak orang seperti itu—dari titik paling bawah lalu merapikan hidup sedikit demi sedikit lagi?

#币圈故事 #合约 #Risiko