Bahan Kimia Global Berbeda Arah saat Minyak Tetap Tinggi tetapi Permintaan Hilir Tetap Lemah
🧪 Minggu 14–18 September menunjukkan bahwa minyak di sekitar $100 tidak mengangkat seluruh kompleks bahan kimia secara seragam. Di Tiongkok, PX, PTA, MEG, dan PVC melemah hingga akhir pekan saat Brent mereda, sementara produk seperti asam asetat dan metanol masih mencatat kenaikan yang berarti.
🏭 Eropa tetap menjadi titik lemah. Tingkat operasi cracker bertahan di kisaran 65–70% meski pasokan etilena dari Timur Tengah terganggu akibat konflik. Karena itu, nafta terus tertinggal dari diesel dan jet fuel, yang lebih mengarah pada permintaan cracker yang lemah daripada sekadar kekurangan bahan baku.
⚙️ Perbedaan arah juga terlihat antara AS dan Asia. Cracker di Teluk AS sangat bergantung pada etana, yang biayanya relatif stabil, memberi ruang agar margin etilena membaik. Sebaliknya, operator PDH di Asia menghadapi tekanan lebih besar karena harga propana dan LPG naik seiring meningkatnya risiko pasokan dari Timur Tengah.
🌾 Pupuk AS juga bergerak ke arah yang berbeda. Urea ritel naik lebih dari 24% selama pekan dan amonium sulfat menguat lebih dari 27%, sedangkan amonia anhidrat turun lebih dari 10%. Logistik, musiman, dan kondisi pasokan yang spesifik untuk tiap produk menciptakan jalur harga yang sangat berbeda.
🇪🇺 Di tengah latar ini, Prancis dan Belanda mengumpulkan 15 negara anggota UE untuk membahas dukungan bagi sektor bahan kimia. Pemanfaatan kapasitas UE27 masih mendekati 74%, sementara biaya gas masih jauh lebih tinggi dibandingkan di AS, dan impor kimia Tiongkok ke Eropa terus meningkat.
📊 Penurunan mingguan pada Brent karenanya tidak berarti tekanan di seluruh sektor bahan kimia sudah mereda. Bahan baku, monomer, polimer, dan pupuk masih merespons dorongan yang berbeda, sehingga dispersi tetap tinggi hingga pekan depan.
#Chemicals $CL $NATGAS
🧪 Minggu 14–18 September menunjukkan bahwa minyak di sekitar $100 tidak mengangkat seluruh kompleks bahan kimia secara seragam. Di Tiongkok, PX, PTA, MEG, dan PVC melemah hingga akhir pekan saat Brent mereda, sementara produk seperti asam asetat dan metanol masih mencatat kenaikan yang berarti.
🏭 Eropa tetap menjadi titik lemah. Tingkat operasi cracker bertahan di kisaran 65–70% meski pasokan etilena dari Timur Tengah terganggu akibat konflik. Karena itu, nafta terus tertinggal dari diesel dan jet fuel, yang lebih mengarah pada permintaan cracker yang lemah daripada sekadar kekurangan bahan baku.
⚙️ Perbedaan arah juga terlihat antara AS dan Asia. Cracker di Teluk AS sangat bergantung pada etana, yang biayanya relatif stabil, memberi ruang agar margin etilena membaik. Sebaliknya, operator PDH di Asia menghadapi tekanan lebih besar karena harga propana dan LPG naik seiring meningkatnya risiko pasokan dari Timur Tengah.
🌾 Pupuk AS juga bergerak ke arah yang berbeda. Urea ritel naik lebih dari 24% selama pekan dan amonium sulfat menguat lebih dari 27%, sedangkan amonia anhidrat turun lebih dari 10%. Logistik, musiman, dan kondisi pasokan yang spesifik untuk tiap produk menciptakan jalur harga yang sangat berbeda.
🇪🇺 Di tengah latar ini, Prancis dan Belanda mengumpulkan 15 negara anggota UE untuk membahas dukungan bagi sektor bahan kimia. Pemanfaatan kapasitas UE27 masih mendekati 74%, sementara biaya gas masih jauh lebih tinggi dibandingkan di AS, dan impor kimia Tiongkok ke Eropa terus meningkat.
📊 Penurunan mingguan pada Brent karenanya tidak berarti tekanan di seluruh sektor bahan kimia sudah mereda. Bahan baku, monomer, polimer, dan pupuk masih merespons dorongan yang berbeda, sehingga dispersi tetap tinggi hingga pekan depan.
#Chemicals $CL $NATGAS
