Minyak Mentah Mendingin, tetapi Diesel, LNG, dan Logistik Tetap Ketat

šŸ›¢ Brent mengakhiri pekan 14–18 September lebih rendah untuk pertama kalinya dalam tiga minggu setelah sempat mendekati $110 per barel. WTI tetap berada di atas $100 dan membukukan kenaikan mingguan yang moderat, dengan pergerakan harga terutama dipengaruhi oleh perubahan risiko logistik Timur Tengah.

🚢 Di awal pekan, gangguan pada pipa Timur–Barat dan pemuatan Yanbu mendorong minyak mentah naik. Menjelang Jumat, Arab Saudi telah meningkatkan perpindahan melalui Oman dan bergerak menuju pemulihan sekitar 50% kapasitas pipa, sehingga meredakan sebagian premi risiko minyak mentah.

⛽ Produk olahan masih jauh lebih ketat. Retak diesel di beberapa wilayah masih berada dekat $80–100 per barel, sementara persediaan distilat AS masih sekitar 13% di bawah rata-rata lima tahun. Tekanan pasokan karenanya lebih terlihat pada diesel dan distilat tengah dibandingkan pada minyak mentah itu sendiri.

šŸŒ Kondisi regional juga berbeda. Aramco terus mengalihkan volume signifikan melalui Ras Tanura dan Sohar ke pembeli Asia, sementara beberapa pelanggan berjangka Eropa tidak menerima alokasi minyak mentah Arab Saudi untuk Oktober. Minyak mentah kertas dapat melemah meski premi fisik Eropa tetap tinggi.

šŸš› Biaya pengiriman tetap ekstrem, dengan tarif VLCC di rute Oman–Tiongkok mendekati $0,9 juta per hari dan beberapa rute dari Teluk ke Asia di atas 1 juta. Dengan demikian, biaya impor yang didelivered tetap tinggi meski harga Brent melemah.

šŸ”„ Pasar gas menunjukkan perpecahan serupa. Henry Hub bertahan dekat $2,90/MMBtu, sementara JKM dan TTF tetap sekitar $26 karena pasokan LNG Qatar dan arus Hormuz belum sepenuhnya normal.
šŸ“Œ Pekan depan, fokus tetap pada pipa Timur–Barat, Hormuz, dan apakah diesel dapat mempertahankan premi tersebut. Tekanan pada minyak mentah telah mereda, tetapi pasar energi yang lebih luas tetap ketat.

#EnergyMarkets $CL $NATGAS