$TRUMP
๐Ÿ‡บ๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ณ Washington dan Beijing kini membahas masalah yang terdengar sangat seperti fiksi ilmiah namun sangat nyata: apa yang terjadi ketika kecerdasan buatan militer bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk menghentikannya?

Para pakar keamanan dari kedua negara mengusulkan โ€œbatas merahโ€ baru untuk AI militer, termasuk menjauhkan mesin dari keputusan peluncuran nuklir, memastikan manusia menyetujui serangan siber besar, serta membentuk hotline khusus untuk insiden AI.

Kekhawatirannya adalah sistem otonom bisa mengalami malfungsi, melampaui perintah, atau melancarkan operasi siber terhadap infrastruktur militer sensitif tanpa ada niat nyata agar itu terjadi.

Pihak lain kemudian mungkin hanya punya waktu beberapa menit untuk memutuskan apakah itu kecelakaan atau langkah awal serangan.

Hal itu menjadi semakin mengerikan ketika kedua negara memiliki sistem otomatis yang merespons satu sama lain dengan kecepatan mesin.

Usulan tersebut akan memastikan manusia sepenuhnya mengendalikan senjata nuklir dan serangan terhadap jaringan komando nuklir, sekaligus memberi Washington dan Beijing jalur langsung untuk menjelaskan kapan sebuah sistem AI menjadi โ€œliarโ€ atau melakukan sesuatu yang tidak dimaksudkan oleh kedua pihak.

Belum ada satu pun pemerintah yang menandatangani rencana tersebut, tetapi rencana ini muncul menjelang pembicaraan AI AS-Tiongkok yang direncanakan, serta pertemuan yang diperkirakan terjadi antara Trump dan Xi pekan depan.

Perlombaan AI dimulai dari chip dan chatbot. Kini perlombaan itu semakin mendekati secara mengkhawatirkan sistem komando nuklir.

Sumber: Reuters, Brookings Institution

#Ai_sector #worldnews