Kesimpulan cepat: Debu (partikulat) di atmosfer Bumi telah berkurang selama hampir dua dekade—sekitar 2003–2023, ketebalan optik debu atmosfer global turun kira-kira 10%; secara keseluruhan debu cenderung sedikit mendinginkan, sementara pengurangan massanya mungkin dengan lembut mendorong pemanasan dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut rilis UCLA (2026-09-16): tim menggabungkan sejumlah satelit, pengolahan ulang data aerosol (reanalysis), serta stasiun darat AERONET ke dalam inversi skala besar, menghasilkan bukti terkuat hingga kini tentang “atmosfer awal abad ke-21 yang menjadi lebih bersih (debu)”. Afrika Utara tetap menjadi sumber terbesar, tetapi penurunan di Afrika Utara sebanding dengan Asia (sekitar −10%), dan keduanya menarik perubahan global. Penyebab belum pasti; penelitian lanjutan akan menelusuri kontribusi seperti perubahan medan angin di permukaan dan vegetasi yang menjadi lebih hijau.

Verifikasi independen: artikel sejawat yang dimuat di Science Advances (DOI 10.1126/sciadv.aef5691); New Scientist juga melaporkan dengan rujukan yang sama—global sekitar −10%—serta mengutip analisis awal yang mengarah pada melemahnya kecepatan angin permukaan dan penghijauan lokal. Studi ini memperkirakan bahwa pengurangan debu pada 2003–2023 setara dengan sekitar +0,02±0,05 W/m² forcing radiasi efektif positif; ini merupakan kontribusi kecil dan bukan penyebab utama.

Gambar 1: Ilustrasi badai debu “Godzilla” dari NASA Scientific Visualization Studio (2020-06-18, Sahara → Amerika Utara)
Gambar 2: Tangkapan layar animasi perubahan debu atmosfer 2003–2023 yang disertakan dalam rilis UCLA
Data hingga: 2026-09-16 (UCLA; SciAdv aef5691; New Scientist)
#气候 #scienc