Pada dini hari hari ini menurut waktu Beijing, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%—4,00%. Ini adalah kenaikan pertama sejak Juli 2023. Namun pasar tidak menunjukkan gejolak besar seperti yang banyak orang perkirakan.


Alasannya sebenarnya tidak rumit.


Pertama, kenaikan suku bunga oleh The Fed itu sendiri sudah sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar.

Sebelum rapat penentuan suku bunga, ekspektasi pasar terhadap kenaikan 25 basis poin sudah melebihi 90%. Jadi yang benar-benar memengaruhi harga, dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berupa: “apakah The Fed akan menaikkan suku bunga?”


Melainkan: “setelah kenaikan suku bunga, apakah masih akan terus naik? Seperti apa sesungguhnya jalur suku bunga ke depan?”


Itulah sebabnya respons pasar kali ini lebih banyak terkonsentrasi pada diagram dot plot, proyeksi ekonomi, serta pernyataan kebijakan Powell/Weiss, bukan hanya semata 25 basis poin. Faktanya, proyeksi terbaru menunjukkan bahwa pada akhir 2026, median suku bunga dana federal sudah dinaikkan dari 3,8% menjadi 4,1% dibanding sebelumnya.


Jadi, kenaikan suku bunga itu sendiri adalah informasi lama; yang menjadi informasi baru adalah lintasan ke depannya.


Kedua, dari kerangka trading saya sendiri, putaran kali ini mungkin sama sekali tidak menjadikan The Fed sebagai jalur utama terbesar.


Pasar sering kali suka mencari “narasi inti” untuk sebuah pergerakan. Beberapa waktu lalu, banyak orang fokus pada: The Fed → penurunan/kenaikan suku bunga → likuiditas → BTC.


Setelah itu mulai diperdagangkan lagi: Undang-Undang CLARITY → kerangka regulasi kripto → altcoin.

Namun jika memperpanjang horizon waktunya, justru saya merasa kedua peristiwa ini lebih mirip sebagai katalis pada tahap tertentu. Yang benar-benar patut diperhatikan adalah dua variabel yang lebih besar:


① Hubungan Tiongkok-AS dan pertemuan Tiongkok-AS

② Pemilihan paruh waktu AS

Karena di balik dua peristiwa ini bukanlah perubahan suku bunga 25 bp saja, melainkan: perdagangan global, fiskal, kebijakan industri, sistem dolar, arus modal, dan siklus politik AS ke depan. Jadi, “big move” pasar yang sebenarnya biasanya tidak berputar di sekitar satu siklus yang sudah sangat diperhitungkan seperti 25 bp itu. Pasar akan melakukan penetapan ulang (re-pricing) berdasarkan siklus kebijakan yang lebih besar.

Ketiga, ada variabel yang sangat mudah terlewatkan: BTC dan ETH di pasar, jumlahnya sedang semakin berkurang.


Ini bisa jadi lebih penting daripada satu kali rapat FOMC. Apalagi untuk ETH: sekarang pasar tidak bisa secara sederhana menyamakan “total pasokan” dengan “aset yang benar-benar bisa dijual kapan saja”.


ETH semakin banyak masuk ke: staking, ETF, treasury perusahaan, DeFi, kontrak pintar, serta alamat pemegang jangka panjang.


Kerangka data pasar itu sendiri juga memecah pasokan ETH menjadi saldo bursa, pasokan di dalam kontrak pintar, serta pasokan dari staking, untuk mengamati bagian peredaran yang benar-benar memiliki kemampuan jual instan.


Data terbaru juga menunjukkan bahwa rasio staking ETH sudah mencapai sekitar 32%, sementara cadangan bursa dibanding puncak 2021 turun cukup besar. Ada juga data yang menunjukkan cadangan bursa ETH terus menurun sejak awal tahun; dalam beberapa definisi statistik, bahkan terlihat penurunan sekitar 15% dibanding awal Juni.


Jadi saya lebih suka memahami ETH begini: total pasokan tidak hilang, tetapi pasokan yang benar-benar berada di order book pasar dan bisa dihantam/jatuh sewaktu-waktu sedang berkurang.


Keduanya sama sekali konsep yang berbeda—itulah sebabnya ke depannya pasar bisa semakin “tidak sesuai intuisi”.


Dulu: jumlah dana meningkat → harga koin naik


Ke depannya mungkin akan berangsur menjadi: dana bertambah + aset yang bisa diperdagangkan berkurang → elastisitas harga makin diperbesar. Terutama saat ETF, treasury perusahaan, staking, dan pemegang jangka panjang sama-sama menyerap pasokan, maka “float” riil di pasar bisa makin tipis.


Inilah juga alasan munculnya fenomena yang cukup menarik di pasar ETH baru-baru ini:


Sisi penawaran semakin ketat, tetapi harga tidak langsung naik sebanding dengan besarnya kontraksi penawaran.


Ini tidak bertentangan, karena harga jangka pendek ditentukan oleh transaksi di pinggir (marginal) beli-jual, bukan oleh total pasokan.

Jadi sekarang saya lebih fokus pada tiga lapisan ini.


Lapisan pertama: peristiwa jangka pendek

The Fed, CPI, data pekerjaan, SEC—semuanya menentukan gejolak jangka pendek.


Lapisan kedua: siklus kebijakan jangka menengah


Hubungan Tiongkok-AS, kebijakan fiskal AS, kerangka regulasi, pemilihan paruh waktu—semuanya menentukan arah besar preferensi risiko pasar.


Lapisan ketiga: perubahan struktur jangka panjang


ETF, stablecoin, RWA, DeFi, treasury perusahaan, staking, serta semakin berkurangnya aset/uang yang benar-benar bisa diperdagangkan.


Lapisan ini menentukan apakah pasar kripto bisa berangsur berubah dari sekadar pasar spekulasi menjadi pasar yang memiliki kebutuhan infrastruktur keuangan yang sangat besar.


Jadi kenaikan suku bunga The Fed kali ini yang tidak diiringi gejolak besar seperti yang dibayangkan tidak berarti bahwa kenaikan suku bunga tidak penting. Lebih tepatnya: pasar sudah mem-”price in” kenaikan tersebut lebih dulu.


Yang saat ini benar-benar layak dipantau adalah: lintasan suku bunga setelah kenaikan, siklus fiskal dan politik AS, serta bagaimana evolusi hubungan Tiongkok-AS.


Namun di dalam pasar kripto sendiri, justru saya semakin memperhatikan variabel lain: ketika semakin banyak BTC dan ETH diserap oleh ETF, institusi, treasury perusahaan, staking, serta pemegang jangka panjang, maka pada akhirnya sisa berapa banyak aset yang benar-benar masih bisa diperdagangkan di pasar?


Mungkin inilah pertanyaan yang paling layak diteliti pada tahap berikutnya. Makro menentukan arah, kebijakan menentukan katalis, dan struktur aset/“chip” yang sesungguhnya menentukan elastisitas harga.

$BTC

#美联储加息是否已成定局