Undang-Undang CLARITY gagal dalam pemungutan suara penutupan (cloture) di Senat. Ini sebenarnya artinya apa

Senat memilih 49-50 atas mosi untuk melanjutkan H.R. 3633 pada 15 September. Cloture membutuhkan 60 suara, sehingga RUU tersebut tertinggal sebelas suara dari ambang batas, bukan kalah dalam adu mayoritas sederhana. Ada tiga hal yang layak dipisahkan.

1. Ini bersifat prosedural, bukan vonis terhadap isi naskah. Yang gagal adalah mosi untuk membuka perdebatan. Tidak ada bagian dalam RUU yang ditolak berdasarkan substansi.

2. Perhitungannya memang sejak awal ketat. Partai Republik memegang 53 kursi, jadi tujuh suara lintas partai (crossover) sudah diperlukan dari awal. Empat Republikan memilih tidak (Collins, Hawley, Moran, Tillis) dan suara lintas dari Demokrat tak pernah datang. Senator Tillis mengubah suaranya menjadi tidak, yang menurut aturan Senat memungkinkannya mengajukan mosi untuk meninjau kembali dan membuat pemungutan suara cloture kedua tetap mungkin.

3. Tidak ada hal yang sudah ada yang dibatalkan. Panduan SEC dan CFTC yang mulai berlaku pada bulan Maret masih berlaku, dan kedua lembaga tersebut bisa terus menulis aturan. Legislasi akan mengunci kerangka dalam undang-undang. Tanpa itu, buku pedoman tetap bersifat administratif—artinya bisa ditulis ulang oleh pemerintahan berikutnya.

Yang perlu diperhatikan sekarang adalah apakah pimpinan menjadwalkan pemungutan suara kedua itu, dan bahasa etik apa yang diperlukan untuk menggerakkan setidaknya satu dari empat suara “tidak” dari kubu Republik.

#CLARITYAct #CryptoNews

Bukan nasihat keuangan. Lakukan riset Anda sendiri.