Berdasarkan data pasar terkini dan proyeksi dari lembaga-lembaga, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada rapat pengambilan keputusan pekan ini (September 2026) sangat tinggi—hampir pasti terjadi—meskipun belum resmi diterapkan.

1. Ekspektasi pasar sangat konsisten
Berdasarkan data dari alat pemantauan The Fed (FedWatch) CME yang dipakai para trader berjangka untuk memasang taruhan, peluang pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan ini sudah mencapai lebih dari 90% (sebagian data menunjukkan 92,4%), sedangkan peluang untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah sangat rendah. Ini menunjukkan bahwa pasar telah sepenuhnya memperhitungkan rencana kenaikan suku bunga tersebut.

2. Pendorong utama kenaikan suku bunga
The Fed menghadapi tekanan besar untuk menaikkan suku bunga, terutama dipicu oleh faktor-faktor berikut:

Data inflasi masih tinggi: CPI AS bulan Agustus naik 3,4% secara year-on-year, dan kenaikan core CPI secara month-to-month melebihi ekspektasi, yang menandakan tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

Guncangan harga energi: Dipengaruhi oleh eskalasi situasi di Timur Tengah, harga minyak internasional melonjak tajam (menembus 100 dolar AS per barel). Kenaikan harga energi menjadi pendorong utama meningkatnya inflasi.

Pasar tenaga kerja masih ketat: Jumlah tambahan pekerjaan nonfarm pada bulan Agustus jauh di atas ekspektasi pasar, sehingga meredam kekhawatiran bahwa proses perekrutan akan memburuk lebih cepat. Hal ini memberikan dukungan bagi The Fed untuk terus memperketat kebijakan.

Pengetatan serentak bank sentral global: Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang juga secara bertahap mengirimkan sinyal kenaikan suku bunga atau menerapkan sinyal tersebut, sehingga likuiditas global menghadapi pengetatan secara bersamaan.

Dari mekanisme transmisi tradisional, kenaikan suku bunga The Fed memang memberi tekanan terhadap emas:

Biaya kepemilikan meningkat: Emas adalah aset tanpa kupon/bunga. Kenaikan suku bunga The Fed akan mendorong imbal hasil aset bebas risiko seperti surat utang AS, sehingga meningkatkan opportunity cost untuk memegang emas dan mendorong sebagian dana keluar dari pasar emas.

Tekanan pada nilai tukar yang didenominasikan dolar AS: Kenaikan suku bunga biasanya menarik kembali modal global ke AS, sehingga mendorong indeks dolar AS menguat. Karena emas internasional diperdagangkan dalam dolar AS, apresiasi dolar AS akan menekan langsung kebutuhan beli pihak pemegang mata uang non-AS, sehingga menekan harga emas.

#美联储加息是否已成定局