Senin lalu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa angkatan bersenjata negara tersebut telah menenggelamkan dua kapal kecil milik Iran di kawasan Selat Hormuz, setelah Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) berupaya menyerang dan menangkap sebuah kapal tak berawak milik Angkatan Laut AS yang sedang patroli. Kapal tak berawak AS itu meluncurkan dua rudal untuk menghancurkan target di dekat Pulau Larak dan kota pelabuhan Kargan.

Insiden ini menandai eskalasi ketegangan militer langsung antara Washington dan Teheran di salah satu titik kemacetan jalur pelayaran terpenting di dunia. Selat Hormuz merupakan rute transportasi utama yang melintasi sebagian besar minyak mentah yang diekspor dari kawasan Teluk, sehingga setiap konflik bersenjata di sana akan memicu kekhawatiran serius terkait gangguan pasokan energi global.

Kejadian tersebut segera menambah tekanan kenaikan harga di pasar minyak dunia dan memicu sentimen defensif risiko secara luas. Ketika risiko geopolitik meningkat, arus modal cenderung mengalir ke aset lindung nilai tradisional seperti USD dan emas, sekaligus memberi tekanan penurunan pada indeks saham saat investor khawatir inflasi energi bisa kembali.

Bagi pasar kripto, sentimen penghindaran risiko (risk-off) jangka pendek dapat membuat arus dana spekulatif berkurang, menimbulkan fluktuasi/ketegangan untuk $BTC dan seluruh pasar. Namun, jika ketegangan berlanjut dan memengaruhi stabilitas ekonomi makro, peran aset kripto yang terdesentralisasi dan independen akan kembali menjadi fokus pemantauan oleh para pelaku pasar.