$USDC $USDT Stablecoin tidak memberikan imbal hasil. Jadi ini benar-benar melindungi bank, atau malah melebih-lebihkan dampaknya?
Studi terbaru Gedung Putih membahas kembali sebuah isu yang sangat sensitif. Jika stablecoin tidak dapat memberi bunga atau imbal hasil kepada pemegangnya, apakah uang yang sebelumnya mungkin keluar dari sistem perbankan akan tetap tinggal di bank sehingga membantu bank meningkatkan kemampuan pemberian pinjaman?
Grup obrolan 👉🏻 每日行情实时策略
Mengapa persoalan ini penting? Karena industri perbankan selama ini khawatir stablecoin akan bersaing dengan simpanan bank tradisional. Jika dana berpindah dari simpanan bank ke stablecoin, dana yang bisa digunakan bank untuk menyalurkan pinjaman dapat terpengaruh. Ini juga menjadi salah satu alasan regulator membatasi imbal hasil stablecoin.
Namun, hasil yang diberikan studi Gedung Putih tidak setidaknya sedrastis itu.
Dalam skenario dasar, jika pelarangan pembayaran stablecoin yang berorientasi pada imbal hasil diterapkan, diperkirakan hanya akan membuat pinjaman bank meningkat sekitar 2,1 miliar dolar AS, yang setara dengan kira-kira 0,02% dari total pinjaman bank.
Melarang imbal hasil stablecoin memang berpotensi membuat sebagian dana tetap berada dalam sistem perbankan. Tetapi jika dilihat dari skala pinjaman bank secara keseluruhan, dampaknya mungkin jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan pasar.
Hal yang benar-benar layak dicermati sebenarnya bukan hanya 2,1 miliar dolar.
Melainkan bahwa AS saat ini perlahan sedang membahas stablecoin ke dalam kerangka arus dana sistem keuangan tradisional.
Dulu, ketika orang membahas stablecoin, lebih banyak membicarakan pembayaran, transfer, DeFi, dan likuiditas pasar kripto.
Sekarang yang dibahas sudah berubah menjadi persoalan yang lebih tradisional.
Jika semakin banyak dolar masuk ke dalam ekosistem stablecoin, uang ini seharusnya tetap berada di simpanan bank, atau masuk ke dalam kerangka cadangan penerbit stablecoin. Ini akan langsung memengaruhi basis simpanan bank, dan sekaligus memengaruhi seberapa besar stablecoin dolar AS pada akhirnya bisa berkembang menjadi infrastruktur pembayaran dan keuangan.
Jadi, larangan imbal hasil stablecoin secara permukaan tampak seperti membatasi apakah sebuah produk boleh memberikan imbal hasil.
Namun di balik itu, sebenarnya sedang menentukan siapa yang akan menguasai lebih banyak likuiditas—ekosistem dolar digital di masa depan, atau sistem perbankan tradisional.
Dan ini juga sama pentingnya untuk $BTC dan seluruh pasar kripto.
Karena semakin besar skala stablecoin, semakin besar pula potensi basis likuiditas dolar yang masuk ke pasar kripto.
Yang benar-benar patut diperhatikan bukan lagi apakah stablecoin bisa memberi imbal hasil, melainkan: ke mana pada akhirnya akan mengalir semakin banyak dolar—lewat arus perbankan atau lewat arus stablecoin
Studi terbaru Gedung Putih membahas kembali sebuah isu yang sangat sensitif. Jika stablecoin tidak dapat memberi bunga atau imbal hasil kepada pemegangnya, apakah uang yang sebelumnya mungkin keluar dari sistem perbankan akan tetap tinggal di bank sehingga membantu bank meningkatkan kemampuan pemberian pinjaman?
Grup obrolan 👉🏻 每日行情实时策略
Mengapa persoalan ini penting? Karena industri perbankan selama ini khawatir stablecoin akan bersaing dengan simpanan bank tradisional. Jika dana berpindah dari simpanan bank ke stablecoin, dana yang bisa digunakan bank untuk menyalurkan pinjaman dapat terpengaruh. Ini juga menjadi salah satu alasan regulator membatasi imbal hasil stablecoin.
Namun, hasil yang diberikan studi Gedung Putih tidak setidaknya sedrastis itu.
Dalam skenario dasar, jika pelarangan pembayaran stablecoin yang berorientasi pada imbal hasil diterapkan, diperkirakan hanya akan membuat pinjaman bank meningkat sekitar 2,1 miliar dolar AS, yang setara dengan kira-kira 0,02% dari total pinjaman bank.
Melarang imbal hasil stablecoin memang berpotensi membuat sebagian dana tetap berada dalam sistem perbankan. Tetapi jika dilihat dari skala pinjaman bank secara keseluruhan, dampaknya mungkin jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan pasar.
Hal yang benar-benar layak dicermati sebenarnya bukan hanya 2,1 miliar dolar.
Melainkan bahwa AS saat ini perlahan sedang membahas stablecoin ke dalam kerangka arus dana sistem keuangan tradisional.
Dulu, ketika orang membahas stablecoin, lebih banyak membicarakan pembayaran, transfer, DeFi, dan likuiditas pasar kripto.
Sekarang yang dibahas sudah berubah menjadi persoalan yang lebih tradisional.
Jika semakin banyak dolar masuk ke dalam ekosistem stablecoin, uang ini seharusnya tetap berada di simpanan bank, atau masuk ke dalam kerangka cadangan penerbit stablecoin. Ini akan langsung memengaruhi basis simpanan bank, dan sekaligus memengaruhi seberapa besar stablecoin dolar AS pada akhirnya bisa berkembang menjadi infrastruktur pembayaran dan keuangan.
Jadi, larangan imbal hasil stablecoin secara permukaan tampak seperti membatasi apakah sebuah produk boleh memberikan imbal hasil.
Namun di balik itu, sebenarnya sedang menentukan siapa yang akan menguasai lebih banyak likuiditas—ekosistem dolar digital di masa depan, atau sistem perbankan tradisional.
Dan ini juga sama pentingnya untuk $BTC dan seluruh pasar kripto.
Karena semakin besar skala stablecoin, semakin besar pula potensi basis likuiditas dolar yang masuk ke pasar kripto.
Yang benar-benar patut diperhatikan bukan lagi apakah stablecoin bisa memberi imbal hasil, melainkan: ke mana pada akhirnya akan mengalir semakin banyak dolar—lewat arus perbankan atau lewat arus stablecoin