Sinyal makro yang sangat patut diperhatikan: imbal hasil obligasi pemerintah berjangka panjang global sedang naik secara serentak.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menembus 5%, level tertinggi sejak 2007;
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menembus 5,4%, level tertinggi sejak 2004;
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menembus 3%, level tertinggi sejak 1996;
Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun menembus 5,4%, berada pada level tertinggi sejak 2007;
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun menembus 4,5%, level tertinggi sejak 2008;
Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun menembus 3,5%, berada pada level tertinggi sejak 2009.
Ini tidak lagi sekadar “kenaikan imbal hasil obligasi AS”. Melainkan, AS, Jepang, Inggris, dan Eropa—suku bunga berjangka panjang semuanya bergerak naik bersamaan.
Di baliknya ada dua logika utama:
Pertama, inflasi. Kenaikan harga minyak kembali mendorong ekspektasi inflasi global, dan pasar mulai “memperdagangkan” skenario “suku bunga lebih tinggi, penurunan suku bunga yang lebih lambat”.
Kedua, fiskal. Utang dan defisit anggaran negara-negara ekonomi utama di dunia terus meningkat. Pasokan obligasi berjangka panjang pun bertambah, sehingga pasar mulai menuntut premi tenor yang lebih tinggi.
Jadi yang patut benar-benar diwaspadai sekarang bukan hanya apakah The Fed akan menaikkan suku bunga. Namun juga, meskipun ke depan suku bunga diturunkan, apakah imbal hasil berjangka panjang masih bisa turun?
Jika imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun secara jangka panjang bertahan di sekitar 5%, maka sistem penilaian (valuasi) aset global akan dinilai ulang.
Dalam jangka pendek, ketika suku bunga naik, likuiditas turun, maka valuasi untuk teknologi berkapitalisasi tinggi (high multiple), saham pertumbuhan, dan Crypto akan mendapat tekanan.
Dalam jangka panjang, jika pasar semakin khawatir terhadap defisit fiskal, ekspansi utang, dan kredibilitas moneter, maka aset langka non-kedaulatan seperti emas dan Bitcoin justru bisa kembali menarik perhatian dana.
Jadi, dalam putaran penurunan harga obligasi global ini, yang benar-benar perlu dicermati bukan seberapa banyak naik-turunnya pada satu hari tertentu, melainkan apakah “suku bunga bebas risiko” (risk-free rate) global—pusatnya—sedang bergeser ke atas secara keseluruhan? Dan bahwa banyak logika valuasi aset perlu dihitung ulang.