Setelah kontraknya rugi kira-kira dua puluh ribu, aku sampai pada satu kesimpulan: mulai sekarang beli spot saja dengan jujur.
Tapi sekarang spot juga masih rugi.
Belakangan kupikir lagi, kesimpulanku waktu itu agak terlalu mudah.
Pertama kali aku main koin, ternyata lebih awal dari yang kupikir. Setelah cek akun, baru tahu kalau pada 2021 sudah terdaftar. Waktu itu modalnya 100 yuan, rugi 30 yuan, langsung kabur.
Habis semester akhir kuliah untuk ujian masuk S2, aku masuk lagi.
Waktu itu lagi panas—PEPE dan FLOKI. Modal 700 yuan, kira-kira 100 USDT, sempat jadi 6.000.
Belakangan $BTC turun lagi dari sekitar 70 ribu dolar, dan untuk pertama kalinya aku liquidasi.
Waktu itu benar-benar takut. Tapi meski takut, setelah itu aku isi lagi dua ribu, tetap saja hilang.
Di periode semester akhir itu total rugi kira-kira enam ribu yuan.
Uang itu dapat dari beasiswa, sialan. Jadi kalau memikirkannya sekarang, masih terasa sakit.
Waktu itu aku merasa ini pasti tidak boleh disentuh lagi.
Di tahun pertama kuliah, waktu luang nggak ada kerjaan, malah balik lagi.
Nanti ada lagi satu transaksi BTC short, dibuka di 89 ribu, ditahan sampai 100 ribu. Akhirnya nggak kuat, aku cut.
Dari semester akhir sampai tahun pertama kuliah S2, rugi kontraknya total kira-kira dua puluh ribu.
Jadi aku bikin kesimpulan lagi untuk diriku sendiri: kontrak nggak cocok buatku, beli spot saja.
Lalu mulai menaruh lebih banyak uang ke altcoin.
Sekarang kalau dilihat lagi, perubahan ini juga cukup aneh. Aku habis rugi saat trading, tapi langkah berikutnya justru menaruh uang lebih banyak ke tempat lain.
$VIRTUAL juga pernah dibeli, pernah dijual, lalu saat turun aku ambil lagi, kemudian terus turun. Sampai sekarang spot masih rugi.
Aku sadar, sebelum beli yang kupikir adalah “spot, tahan lama”. Tapi setelah beli, yang kupikir berubah jadi “kok belum naik juga”.
Sebelum beli aku buru-buru masuk, setelah beli juga buru-buru berharap naik. Pas turun, malah jadi bimbang—harus ditahan atau mengakui rugi lalu pergi.
Belakangan kontraknya dihentikan.
Tapi jujur, kadang-kadang masih muncul pikiran “yaudah coba lagi pakai modal kecil”. Jadi aku juga nggak ingin tulisan ini dianggap semacam sharing pengalaman setelah benar-benar sadar.
Aku belum balik modal, dan penyakitnya juga belum aku benahi.
Hanya sampai di sini, aku mengakui satu hal:
Aku pikir kalau ganti ke spot, aku bakal bisa lebih sabar. Hasilnya, barang yang kubeli memang berubah, tapi rasa ingin cepat menghasilkan uang nggak berubah sama sekali.
Tapi sekarang spot juga masih rugi.
Belakangan kupikir lagi, kesimpulanku waktu itu agak terlalu mudah.
Pertama kali aku main koin, ternyata lebih awal dari yang kupikir. Setelah cek akun, baru tahu kalau pada 2021 sudah terdaftar. Waktu itu modalnya 100 yuan, rugi 30 yuan, langsung kabur.
Habis semester akhir kuliah untuk ujian masuk S2, aku masuk lagi.
Waktu itu lagi panas—PEPE dan FLOKI. Modal 700 yuan, kira-kira 100 USDT, sempat jadi 6.000.
Belakangan $BTC turun lagi dari sekitar 70 ribu dolar, dan untuk pertama kalinya aku liquidasi.
Waktu itu benar-benar takut. Tapi meski takut, setelah itu aku isi lagi dua ribu, tetap saja hilang.
Di periode semester akhir itu total rugi kira-kira enam ribu yuan.
Uang itu dapat dari beasiswa, sialan. Jadi kalau memikirkannya sekarang, masih terasa sakit.
Waktu itu aku merasa ini pasti tidak boleh disentuh lagi.
Di tahun pertama kuliah, waktu luang nggak ada kerjaan, malah balik lagi.
Nanti ada lagi satu transaksi BTC short, dibuka di 89 ribu, ditahan sampai 100 ribu. Akhirnya nggak kuat, aku cut.
Dari semester akhir sampai tahun pertama kuliah S2, rugi kontraknya total kira-kira dua puluh ribu.
Jadi aku bikin kesimpulan lagi untuk diriku sendiri: kontrak nggak cocok buatku, beli spot saja.
Lalu mulai menaruh lebih banyak uang ke altcoin.
Sekarang kalau dilihat lagi, perubahan ini juga cukup aneh. Aku habis rugi saat trading, tapi langkah berikutnya justru menaruh uang lebih banyak ke tempat lain.
$VIRTUAL juga pernah dibeli, pernah dijual, lalu saat turun aku ambil lagi, kemudian terus turun. Sampai sekarang spot masih rugi.
Aku sadar, sebelum beli yang kupikir adalah “spot, tahan lama”. Tapi setelah beli, yang kupikir berubah jadi “kok belum naik juga”.
Sebelum beli aku buru-buru masuk, setelah beli juga buru-buru berharap naik. Pas turun, malah jadi bimbang—harus ditahan atau mengakui rugi lalu pergi.
Belakangan kontraknya dihentikan.
Tapi jujur, kadang-kadang masih muncul pikiran “yaudah coba lagi pakai modal kecil”. Jadi aku juga nggak ingin tulisan ini dianggap semacam sharing pengalaman setelah benar-benar sadar.
Aku belum balik modal, dan penyakitnya juga belum aku benahi.
Hanya sampai di sini, aku mengakui satu hal:
Aku pikir kalau ganti ke spot, aku bakal bisa lebih sabar. Hasilnya, barang yang kubeli memang berubah, tapi rasa ingin cepat menghasilkan uang nggak berubah sama sekali.