Menurut CNBC, China secara resmi membatasi warganya untuk meninggalkan negara jika mereka melanggar kontrol ekspor teknologi, dengan aturan baru mulai berlaku pada hari Selasa. Langkah-langkah tersebut membangun pengawasan terhadap investasi luar negeri yang dimulai pada 1 Juli dan bertujuan menutup celah yang memungkinkan orang dan uang keluar dari China tanpa persetujuan Beijing. Shuai Peng, CEO Lex Magister, mengatakan perusahaan yang berekspansi ke luar negeri perlu menilai kepatuhan, terutama ketika para eksekutif sedang bernegosiasi di luar negeri. Ia menyebut perusahaan semikonduktor dan kecerdasan buatan kemungkinan paling terdampak, meskipun aturan tersebut berlaku di seluruh industri, dan ia tidak memperkirakan aturan ini secara materi membatasi partisipasi dalam konferensi internasional seperti CES di Las Vegas. Guo Shan, mitra di Hutong Research, mengatakan dampaknya kemungkinan terkonsentrasi di Singapura dan Jepang, tetapi tidak memengaruhi sentimen bisnis global yang lebih luas terhadap China.