Amerika punya strategi inflasi + stimulus fiskal yang kuat + kenaikan pendapatan rumah tangga + pertumbuhan PDB nominal, sebagai cara untuk mengimbangi beban utang—negara lain sebenarnya jadi sulit.

“Perang mata uang” yang sesungguhnya, sederhana dan tidak banyak basa-basi.

Dua tahun lalu, ketika Trump mendorong akuisisi aset pelabuhan milik Li Ka-shing, saya sudah menulis bahwa salah satu inti dari strategi Amerika ini adalah mendorong penilaian ulang global terhadap komoditas dan harga aset.

Sekarang kalau ditinjau kembali, logikanya makin jelas. Komoditas naik → harga nominal naik → pendapatan perusahaan dan harga aset naik → inflasi terdorong → pertumbuhan PDB nominal → nilai riil utang besar secara perlahan terdilusi.

Dan Wall Street memang terus mendorong penetapan ulang harga untuk komoditas, energi, serta berbagai aset berbasis sumber daya.

Yang paling merepotkan justru negara lain.

Mengikuti stimulus AS?

Inflasi, harga aset, dan tekanan utang ikut naik.

Tidak mengikuti?

Pertumbuhan ekonomi tertinggal, mata uang relatif menguat, tekanan ekspor meningkat—utang mereka justru makin terasa berat.

Naikkan suku bunga?

Ekonomi tak sanggup.

Turunkan suku bunga?

Mata uang dan modal bisa kembali tertekan.

Jadi banyak negara sebenarnya terjebak dalam situasi serba salah.

Bagian yang benar-benar hebat dari AS mungkin bukan soal melunasi utangnya sendiri.

Melainkan memanfaatkan dolar, sistem keuangan, dan otoritas penetapan harga aset global untuk mengubah sebagian tekanan utang menjadi penilaian ulang harga secara global.

$BTC $ETH #ldo #eth