🚨Dilema Keputusan The Fed September: Naikkan atau Tidak, yang diuji bukan hanya inflasi, tetapi juga kepercayaan pasar!
Menurut pandangan terbaru dari CICC, dari sudut pandang menjaga kredibilitas The Fed, kenaikan suku bunga pada bulan September justru bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
Sebabnya cukup sederhana: sinyal hawkish yang sempat dikeluarkan The Fed sebelumnya telah membuat pasar membentuk ekspektasi. Jika setelah itu tiba-tiba memilih “tidak menaikkan suku bunga”, investor bisa meragukan apakah The Fed benar-benar punya tekad untuk mengendalikan inflasi.
Pasca rapat FOMC bulan Juli, pernyataan pejabat The Fed sempat terdengar agak samar, ketidakpastian pasar meningkat, dan premi tenor obligasi AS juga naik dari 0,65% pada akhir Juli menjadi 0,9% pada pertengahan Agustus—tekanan di pasar obligasi pun terlihat jelas.
Selanjutnya, dalam pertemuan Jackson Hole, The Fed mengeluarkan sinyal yang lebih tegas untuk menstabilkan ekspektasi pasar.
Namun kini masalahnya adalah, seiring data ketenagakerjaan dan inflasi terus dirilis, ruang pilihan The Fed semakin menyempit.
Kekhawatiran pasar adalah: jika sebelumnya The Fed menekankan pengendalian inflasi, tetapi rapatnya justru mendadak tidak melakukan apa-apa, hal itu dapat semakin merusak kredibilitas kebijakan, bahkan memicu gejolak yang lebih besar di pasar obligasi AS.
Singkatnya, kini yang dihadapi The Fed bukan lagi sekadar soal “naikkan atau tidak suku bunga”, melainkan ujian kredibilitas.
Ke depan, yang menjadi perhatian pasar bukan hanya arah suku bunga, tetapi juga apakah The Fed masih bisa membuat investor percaya pada apa yang pernah dikatakannya.
Menurut pandangan terbaru dari CICC, dari sudut pandang menjaga kredibilitas The Fed, kenaikan suku bunga pada bulan September justru bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
Sebabnya cukup sederhana: sinyal hawkish yang sempat dikeluarkan The Fed sebelumnya telah membuat pasar membentuk ekspektasi. Jika setelah itu tiba-tiba memilih “tidak menaikkan suku bunga”, investor bisa meragukan apakah The Fed benar-benar punya tekad untuk mengendalikan inflasi.
Pasca rapat FOMC bulan Juli, pernyataan pejabat The Fed sempat terdengar agak samar, ketidakpastian pasar meningkat, dan premi tenor obligasi AS juga naik dari 0,65% pada akhir Juli menjadi 0,9% pada pertengahan Agustus—tekanan di pasar obligasi pun terlihat jelas.
Selanjutnya, dalam pertemuan Jackson Hole, The Fed mengeluarkan sinyal yang lebih tegas untuk menstabilkan ekspektasi pasar.
Namun kini masalahnya adalah, seiring data ketenagakerjaan dan inflasi terus dirilis, ruang pilihan The Fed semakin menyempit.
Kekhawatiran pasar adalah: jika sebelumnya The Fed menekankan pengendalian inflasi, tetapi rapatnya justru mendadak tidak melakukan apa-apa, hal itu dapat semakin merusak kredibilitas kebijakan, bahkan memicu gejolak yang lebih besar di pasar obligasi AS.
Singkatnya, kini yang dihadapi The Fed bukan lagi sekadar soal “naikkan atau tidak suku bunga”, melainkan ujian kredibilitas.
Ke depan, yang menjadi perhatian pasar bukan hanya arah suku bunga, tetapi juga apakah The Fed masih bisa membuat investor percaya pada apa yang pernah dikatakannya.
