Menurut laporan yang diterbitkan oleh Financial Times menjelang pertemuan kebijakan mendatang Bank of England, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga energi lebih tinggi dan memicu kembali perdebatan internal yang intens mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Perubahan ini terjadi pada titik yang krusial, karena pasar sebelumnya memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga kurang dari sepertiga pada pertemuan September hari Kamis ini. Namun, pertumbuhan PDB Inggris yang tetap kuat, ditambah dengan meningkatnya guncangan geopolitik terkait minyak, justru menekan para pembuat kebijakan. Ekonom Deutsche Bank Sanjay Raja memperingatkan bahwa kesabaran BoE mungkin mulai menipis karena dasar untuk mempertahankan suku bunga di 3,75% melemah.

Prospek pengetatan moneter yang kembali berlanjut telah mengguncang pasar obligasi global dan memperkuat imbal hasil surat utang pemerintah, sehingga menambah tekanan pada otoritas fiskal menjelang anggaran 28 Oktober. Penerapan rezim suku bunga lebih tinggi untuk lebih lama di sejumlah bank sentral utama berpotensi mengeringkan kondisi likuiditas dan meningkatkan volatilitas lintas aset.

Bagi sektor kripto, tekanan makro yang persisten dan inflasi yang tetap lengket biasanya meredam sentimen berisiko dalam jangka pendek, sehingga berpotensi membatasi momentum kenaikan untuk $BTC karena modal beralih ke tempat yang lebih aman. Investor sebaiknya memantau secara ketat arahan ke depan bank sentral untuk memahami gambaran makroekonomi yang lebih luas.

#BankOfEngland #EnergyCrisis #EkonomiMakro