Di grup ini ada satu teman, sebelumnya kerja di Houhai sebagai pelatih kebugaran. Ngajar kelasnya bagus, sampai-sampai member mengenalnya. Dia sudah mengumpulkan sekitar tiga puluh sekian ribu. Awalnya dia berniat kerja sama dengan orang lain buat membuka studio kecil.
Tapi saat gelombang pasar itu, dia masuk pakai leverage. Kejar terus, tambah terus. Hari paling parahnya, dia sampai duduk di ruang ganti gym selama setengah jam nggak keluar. Di tangannya ada dua posisi yang meledak barengan. Setelah itu malah jadi utang ke platform beberapa puluh ribu. Dia bilang, setelah kejadian itu, selama sebulan penuh, dia bahkan nggak berani buka software analisis pasar. Ikonnya dia taruh di layar paling belakang ponsel; digeser sedikit pun dia langsung deg-degan.
Yang benar-benar menghentikannya bukanlah aksi “nekat” yang keren. Melainkan saat dia pergi ke pasar sayur untuk beli chicken breast. Di sana, penjualnya lagi memotong ayam sambil menghitung selisih harga per satuan—yang sampai seperkian—dengan sangat serius. Dia berdiri melihat beberapa saat. Setelah pulang, dia diam-diam mematikan semua kontraknya, leverage dipotong sampai nol. Lalu dia cari kerja sebagai pelatih full-time. Gajinya tidak tinggi, tapi ada stabilitas. Setiap malam dia luangkan sepuluh menit untuk rekap dan meninjau ulang, hanya memasang order kecil beberapa ribu kalau ada penarikan di timeframe mingguan. Dia juga menggambar tabel sendiri, dipajang di dinding. Kalau ruginya sudah menyentuh garis tertentu, hari itu juga dia berhenti. Kalau untung juga sama.
Hutang itu dia lunasi lebih dari satu tahun, tapi sekarang masih terus mencicil. Namun cara bicaranya jelas berubah. Kalau membahas pasar, paling cuma mengangkat tangan saja, bilang bahwa hidup itu lebih penting daripada menang sekali. Dia tidak lagi menghabiskan semuanya (all-in), juga tidak berbalik jadi orang super kaya. Hidupnya tetap begitu: jam tujuh pagi untuk kelas tetap harus bangun dan merangkak.
Kamu pernah nggak ngalamin satu masa ketika kamu merangkak naik lagi dari titik terendah?
#币圈故事 #Risiko
Tapi saat gelombang pasar itu, dia masuk pakai leverage. Kejar terus, tambah terus. Hari paling parahnya, dia sampai duduk di ruang ganti gym selama setengah jam nggak keluar. Di tangannya ada dua posisi yang meledak barengan. Setelah itu malah jadi utang ke platform beberapa puluh ribu. Dia bilang, setelah kejadian itu, selama sebulan penuh, dia bahkan nggak berani buka software analisis pasar. Ikonnya dia taruh di layar paling belakang ponsel; digeser sedikit pun dia langsung deg-degan.
Yang benar-benar menghentikannya bukanlah aksi “nekat” yang keren. Melainkan saat dia pergi ke pasar sayur untuk beli chicken breast. Di sana, penjualnya lagi memotong ayam sambil menghitung selisih harga per satuan—yang sampai seperkian—dengan sangat serius. Dia berdiri melihat beberapa saat. Setelah pulang, dia diam-diam mematikan semua kontraknya, leverage dipotong sampai nol. Lalu dia cari kerja sebagai pelatih full-time. Gajinya tidak tinggi, tapi ada stabilitas. Setiap malam dia luangkan sepuluh menit untuk rekap dan meninjau ulang, hanya memasang order kecil beberapa ribu kalau ada penarikan di timeframe mingguan. Dia juga menggambar tabel sendiri, dipajang di dinding. Kalau ruginya sudah menyentuh garis tertentu, hari itu juga dia berhenti. Kalau untung juga sama.
Hutang itu dia lunasi lebih dari satu tahun, tapi sekarang masih terus mencicil. Namun cara bicaranya jelas berubah. Kalau membahas pasar, paling cuma mengangkat tangan saja, bilang bahwa hidup itu lebih penting daripada menang sekali. Dia tidak lagi menghabiskan semuanya (all-in), juga tidak berbalik jadi orang super kaya. Hidupnya tetap begitu: jam tujuh pagi untuk kelas tetap harus bangun dan merangkak.
Kamu pernah nggak ngalamin satu masa ketika kamu merangkak naik lagi dari titik terendah?
#币圈故事 #Risiko
