Menteri Perdagangan AS mengatakan bahwa dividen 5.000 dolar yang dibagikan kepada warga AS berasal dari uang yang diperoleh pemerintah. Menteri Perdagangan AS dan warga AS, keduanya tidak bisa aritmetika sekolah dasar, ya?
Bukan karena tidak bisa aritmetika, tetapi sengaja mencampur tiga jenis pos: nilai pasar di kertas, kas negara, dan pengeluaran yang dapat dialokasikan.
Dahulukan dulu angka-angkanya: berdasarkan perkiraan sekitar 240 juta warga negara dewasa AS, masing-masing 5.000 dolar AS, total tagihannya kira-kira 1,2 triliun dolar; estimasi independen juga mendekati besaran itu, sementara kepemilikan Intel itu “hanya sekitar 4%”, dan “bukan dalam bentuk uang tunai”. Yang lebih penting, menurut perjanjian resmi, pemerintah membeli 433,3 juta saham, dengan harga 20,47 dolar per saham, setara 9,9%. Jika harga saham sekitar 100 dolar, maka nilai pasarnya sekitar 43,3 miliar dolar; setelah dikurangi biaya sekitar 8,87 miliar dolar, keuntungan mengambang sekitar 34,4 miliar dolar. Bahkan jika memakai algoritma lisan Luntniuk “500 juta saham, 20 hingga 100, untung 50 miliar”, hasilnya tetap hanya 40 miliar dolar, dan juga sama sekali bukan 50 miliar dolar.
Jadi, kesalahan inti memiliki tiga lapis. Pertama, saham naik ≠ pemerintah mendapat uang yang bisa dibelanjakan; selama belum dijual itu hanya untung mengambang, tetapi saat benar-benar melepas 9,9% dalam jumlah besar, pasar tidak cukup menyerap, sehingga harga jatuh lebih dulu. Kedua, bahkan jika diwujudkan sebesar 50 miliar dolar, itu hanya cukup untuk membayar sekitar 4,2% dari 1,2 triliun dolar; sisanya 96% tetap harus lewat penerbitan obligasi, menaikkan pajak, dan memangkas sumber belanja, dan tetap tak lepas dari alokasi dana Kongres. Ketiga, menjadikan kasus Intel untuk diekstrapolasi menjadi “negara hidup dari saham untuk membayar dividen”, artinya menyamakan penilaian ulang aset sekali pakai dengan mesin pembiayaan fiskal; hari ini bisa membuat cerita, besok harga saham bisa turun—lalu dividen ditanggung siapa?
Tentu saja orang Amerika akan berhitung seperti murid SD: 5000×240 juta = 1,2 triliun, 500 miliar ÷ 1,2 triliun ≈ 4,2%. Masalah sebenarnya bukan perkaliannya, melainkan retorika politik yang menyembunyikan penyebutnya, lalu menyebut “kemewahan di atas kertas” seolah-olah itu “uang yang benar-benar diterima”. Satu kalimat: ini bukan skema dividen, melainkan membungkus untung mengambang hasil perdagangan saham ke dalam uang kas untuk rakyat, lalu memanfaatkan beda waktu menjelang musim pemilu untuk mewujudkan perhatian publik.