Pasar energi pada pekan 7–11 September: minyak tetap di atas $100 sementara solar tetap sebagai segmen paling ketat

🛢 Brent November menutup pekan ini di $104,61 per barel, naik 8,65%, sementara WTI menetap di $100,05. Keduanya terkoreksi tajam pada Jumat setelah Brent sempat mendekati $110, namun hal itu tetap menjadi penutupan mingguan pertama di atas $100 sejak pertengahan Mei.

🌍 Pasokan fisik tetap menjadi pendorong utama. IEA menyatakan produksi minyak mentah Arab Saudi turun menjadi sekitar 6 juta barel per hari pada Agustus, turun 2,3 juta dari bulan sebelumnya, sementara lebih dari 10 juta barel per hari kapasitas Teluk masih terdampak risiko keamanan dan gangguan transportasi.

⛽ Produk olahan tetap lebih ketat daripada minyak mentah. Ekspor bersih diesel dan gasoil kawasan Teluk turun menjadi sekitar 390.000 barel per hari pada Agustus, diesel ritel AS bergerak di atas $6 per galon, dan selisih retak 3-2-1 bertahan di kisaran $62 per barel. Ini menunjukkan tekanan kekurangan paling kuat terkonsentrasi pada distilat, bukan semata pada minyak mentah.

📉 IEA juga memangkas proyeksi permintaan minyak untuk 2026 secara tajam, memperkirakan penurunan 2,5 juta barel per hari, atau 940.000 barel per hari lebih rendah dibanding bulan lalu. Harga energi yang tinggi semakin merusak permintaan, sehingga menjadi kendala jangka menengah meskipun pasokan jangka pendek masih ketat.

🤝 Pasar kini berfokus pada pembicaraan Oman pada 14 September. Ekspektasi adanya pengaturan sementara untuk memperbaiki pengiriman melalui Selat Hormuz membantu menarik Brent kembali dari hampir $110 ke area $104–105, tetapi premi diesel kemungkinan tetap tinggi meskipun harga minyak mendingin.

#Energy $CL