Pekan pasar pertanian tanggal 7–11 Sep: Tekanan WASDE membebani kedelai, komoditas lunak terpecah, dan ternak memperpanjang kenaikan
🌽 WASDE 11 Sep menjadi pendorong utama untuk komoditas biji-bijian AS. USDA menurunkan perkiraan hasil jagung menjadi 178,5 bu/acre dan produksi menjadi 15,80 miliar bushel, namun stok akhir sebesar 1,567 miliar bushel tetap berada di atas ekspektasi pasar. Kontrak jagung Desember awalnya menguat setelah laporan, sebelum berbalik dan mengakhiri pekan di kisaran 5,30 USD/bushel.
🫘 Kedelai menghadapi penjualan yang lebih berat setelah USDA menaikkan hasil menjadi 52,8 bu/acre dan produksi menjadi 4,535 miliar bushel, sementara dana (funds) sebelumnya sudah memegang posisi long yang sangat besar. Kedelai November turun hampir 36 sen pada Jumat karena laporan tersebut tidak memberikan dukungan bullish yang cukup.
🌾 Gandum juga melemah, dengan KC Desember turun di bawah 8 USD. Saham AS sebagian besar tidak banyak berubah, sementara pasokan Laut Hitam belum lenyap, namun biaya logistik mendorong sebagian permintaan Asia bergeser ke gandum Australia dan Argentina dengan premi yang lebih tinggi.
☕ Komoditas lunak tetap sangat terbelah. Arabika turun menuju level terendah sekitar 10 minggu karena prospek panen Brasil membaik, sementara gula mentah bertahan di dekat level tertinggi 16 bulan karena kekhawatiran pasokan UE dan prospek etanol. Kakao London turun sekitar 11–12% sepanjang pekan, sedangkan minyak sawit melemah meski Indonesia terus memajukan peta jalan B50.
🐄 Sektor peternakan bergerak pada jalur terpisah. Sapi potong hidup Oktober naik sekitar 7,50 USD/cwt selama pekan tersebut karena pasokan kawanan AS masih ketat, sementara babi gendut (lean hogs) melemah dan mengakhiri tren kemenangan dua pekan.
📌 Untuk 14–18 Sep, perhatian beralih ke progres panen AS, posisi spekulatif jagung yang padat, aktivitas ekspor, kedaluwarsa kakao London pada 15 Sep serta minyak mentah, yang kian membentuk minyak kedelai, minyak sawit, dan gula.
#Agriculture $ICP
🌽 WASDE 11 Sep menjadi pendorong utama untuk komoditas biji-bijian AS. USDA menurunkan perkiraan hasil jagung menjadi 178,5 bu/acre dan produksi menjadi 15,80 miliar bushel, namun stok akhir sebesar 1,567 miliar bushel tetap berada di atas ekspektasi pasar. Kontrak jagung Desember awalnya menguat setelah laporan, sebelum berbalik dan mengakhiri pekan di kisaran 5,30 USD/bushel.
🫘 Kedelai menghadapi penjualan yang lebih berat setelah USDA menaikkan hasil menjadi 52,8 bu/acre dan produksi menjadi 4,535 miliar bushel, sementara dana (funds) sebelumnya sudah memegang posisi long yang sangat besar. Kedelai November turun hampir 36 sen pada Jumat karena laporan tersebut tidak memberikan dukungan bullish yang cukup.
🌾 Gandum juga melemah, dengan KC Desember turun di bawah 8 USD. Saham AS sebagian besar tidak banyak berubah, sementara pasokan Laut Hitam belum lenyap, namun biaya logistik mendorong sebagian permintaan Asia bergeser ke gandum Australia dan Argentina dengan premi yang lebih tinggi.
☕ Komoditas lunak tetap sangat terbelah. Arabika turun menuju level terendah sekitar 10 minggu karena prospek panen Brasil membaik, sementara gula mentah bertahan di dekat level tertinggi 16 bulan karena kekhawatiran pasokan UE dan prospek etanol. Kakao London turun sekitar 11–12% sepanjang pekan, sedangkan minyak sawit melemah meski Indonesia terus memajukan peta jalan B50.
🐄 Sektor peternakan bergerak pada jalur terpisah. Sapi potong hidup Oktober naik sekitar 7,50 USD/cwt selama pekan tersebut karena pasokan kawanan AS masih ketat, sementara babi gendut (lean hogs) melemah dan mengakhiri tren kemenangan dua pekan.
📌 Untuk 14–18 Sep, perhatian beralih ke progres panen AS, posisi spekulatif jagung yang padat, aktivitas ekspor, kedaluwarsa kakao London pada 15 Sep serta minyak mentah, yang kian membentuk minyak kedelai, minyak sawit, dan gula.
#Agriculture $ICP
