Konon, tanda bahwa seseorang itu kesepian adalah ketika ia pergi ke supermarket sendirian, menonton film sendirian, dan makan hot pot sendirian. Menilik daftar ini, ternyata aku sama sekali tidak memenuhi salah satunya.
Bukan berarti aku menjauh dari kesepian; hanya saja kesepianku tidak pernah berada di dalam suasana ramai dan yang biasa-biasa saja seperti itu.
Orang lain seusai kerja pergi ke supermarket, memilih sayur dan buah yang segar, lalu memikirkan malam ini mau makan apa. Aku duduk di depan layar, menatap grafik yang naik-turun, berulang kali menimbang posisi di dalam pikiranku. Teman-teman mengajak untuk duduk semeja makan hot pot, mengobrol tentang hal-hal remeh keseharian sambil mengepul hangat. Sedangkan aku menjaga pergerakan harga, dalam hati memikirkan kapan waktu yang pas untuk menambah posisi. Waktu luang orang-orang dipakai untuk api kecil dan urusan perasaan antarmanusia; sedangkan waktuku, sebagian besar kuhabiskan untuk candlestick Kline yang naik turun tak menentu.
Orang-orang di sekitarku sulit merasakan perasaan semacam ini. Di mata orang lain, aku hanya duduk dengan tenang di sana; tapi hanya aku yang tahu bahwa emosiku terus berayun mengikuti pergerakan grafik. Saat akun sedang meningkat, aku sempat merasa penuh harapan. Begitu gelombang merah menutupi seluruh layar, hatiku pun kembali tenggelam. Kesepian ini bukan karena aku kekurangan teman di samping, melainkan karena tidak ada yang benar-benar bisa ikut merasakan penantian ini.
Kesepian orang lain adalah karena tidak ada yang menemani. Kesepianku adalah koin yang menemani aku—yang entah kenapa tak kunjung memberiku hasil.
Di banyak momen yang hening, aku diam-diam berharap pada akun. Bukan karena rakus ingin jadi kaya mendadak, hanya berharap bisa balik modal. Dalam penantian yang panjang, saat melihat angka untung-rugi saling tarik-menarik, aku belajar untuk terbiasa dengan naik-turunnya grafik, dan perlahan juga terbiasa dengan kesepian yang khas milik para trader.
Kadang aku juga menertawakan diriku sendiri: kapan akun bisa balik modal, mungkin pada saat itulah kesepian ini benar-benar berakhir.
Namun perlahan aku juga paham, berinvestasi pada dasarnya adalah latihan yang dilakukan sendirian. Kenaikan dan penurunan harus ditanggung sendiri, keputusan harus dipertanggungjawabkan sendiri. Kondisi pasar tidak akan mudah membaik hanya karena adanya harapan, dan akun pun tidak akan beralih dari rugi menjadi untung hanya karena rasa cemas.
Kesepian yang tersimpan di balik Kline ini adalah penantian dan penderitaan hari demi hari. Aku menunggu satu pantulan naik, menunggu saat balik modal, sekaligus menunggu hasil yang menjadi milikku sendiri dalam perjalanan panjang ini.
Bukan berarti aku menjauh dari kesepian; hanya saja kesepianku tidak pernah berada di dalam suasana ramai dan yang biasa-biasa saja seperti itu.
Orang lain seusai kerja pergi ke supermarket, memilih sayur dan buah yang segar, lalu memikirkan malam ini mau makan apa. Aku duduk di depan layar, menatap grafik yang naik-turun, berulang kali menimbang posisi di dalam pikiranku. Teman-teman mengajak untuk duduk semeja makan hot pot, mengobrol tentang hal-hal remeh keseharian sambil mengepul hangat. Sedangkan aku menjaga pergerakan harga, dalam hati memikirkan kapan waktu yang pas untuk menambah posisi. Waktu luang orang-orang dipakai untuk api kecil dan urusan perasaan antarmanusia; sedangkan waktuku, sebagian besar kuhabiskan untuk candlestick Kline yang naik turun tak menentu.
Orang-orang di sekitarku sulit merasakan perasaan semacam ini. Di mata orang lain, aku hanya duduk dengan tenang di sana; tapi hanya aku yang tahu bahwa emosiku terus berayun mengikuti pergerakan grafik. Saat akun sedang meningkat, aku sempat merasa penuh harapan. Begitu gelombang merah menutupi seluruh layar, hatiku pun kembali tenggelam. Kesepian ini bukan karena aku kekurangan teman di samping, melainkan karena tidak ada yang benar-benar bisa ikut merasakan penantian ini.
Kesepian orang lain adalah karena tidak ada yang menemani. Kesepianku adalah koin yang menemani aku—yang entah kenapa tak kunjung memberiku hasil.
Di banyak momen yang hening, aku diam-diam berharap pada akun. Bukan karena rakus ingin jadi kaya mendadak, hanya berharap bisa balik modal. Dalam penantian yang panjang, saat melihat angka untung-rugi saling tarik-menarik, aku belajar untuk terbiasa dengan naik-turunnya grafik, dan perlahan juga terbiasa dengan kesepian yang khas milik para trader.
Kadang aku juga menertawakan diriku sendiri: kapan akun bisa balik modal, mungkin pada saat itulah kesepian ini benar-benar berakhir.
Namun perlahan aku juga paham, berinvestasi pada dasarnya adalah latihan yang dilakukan sendirian. Kenaikan dan penurunan harus ditanggung sendiri, keputusan harus dipertanggungjawabkan sendiri. Kondisi pasar tidak akan mudah membaik hanya karena adanya harapan, dan akun pun tidak akan beralih dari rugi menjadi untung hanya karena rasa cemas.
Kesepian yang tersimpan di balik Kline ini adalah penantian dan penderitaan hari demi hari. Aku menunggu satu pantulan naik, menunggu saat balik modal, sekaligus menunggu hasil yang menjadi milikku sendiri dalam perjalanan panjang ini.

