Bitcoin Menghadapi Tekanan Baru saat Imbal Hasil Meningkat dan Harga Minyak Membayangi Prospek
Bitcoin kesulitan mempertahankan area $77.000 karena meningkatnya imbal hasil Surat Utang (Treasury) AS dan melonjaknya harga minyak menambah tekanan pada aset berisiko menjelang laporan inflasi AS terbaru.
Imbal hasil Treasury 10 tahun berada di kisaran 4,94%, sementara Brent telah naik hingga setinggi $109 per barel. Harga energi yang lebih tinggi memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap tinggi, yang berpotensi membatasi kemampuan Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter dan menjaga biaya pinjaman lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Hal ini menciptakan lingkungan yang sulit bagi Bitcoin. Ketika imbal hasil mendekati 5%, investor memiliki insentif yang lebih kuat untuk memegang aset pendapatan tradisional dibandingkan aset yang lebih berisiko dan tidak menghasilkan imbal hasil seperti BTC. Indeks Dolar yang berada di sekitar 99,15 turut menambah tekanan.
CPI Bisa Menentukan Langkah Berikutnya Bitcoin
Katalis terbesar adalah Indeks Harga Konsumen AS (U.S. Consumer Price Index). Pembacaan inflasi yang lebih lemah dari perkiraan dapat menurunkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga lanjutan, sehingga berpotensi memberi ruang bagi Bitcoin dan aset berisiko lainnya untuk pulih.
Namun, data inflasi yang kembali panas dapat mendorong imbal hasil Treasury dan dolar makin tinggi, sehingga menciptakan tekanan jual tambahan di seluruh kripto dan saham.
Secara teknis, Bitcoin tengah mendekati EMA 50 minggu di sekitar $77.374 setelah gagal menembus resistensi Fibonacci kunci. Penutupan mingguan di bawah level ini dapat menjadi sinyal pelemahan momentum dan membuka paparan ke wilayah $70.000.
Untuk saat ini, $77.000–$77.400 adalah zona kunci yang perlu dipantau. Langkah besar berikutnya Bitcoin mungkin lebih bergantung pada inflasi, harga minyak, imbal hasil Treasury, dan keputusan berikutnya The Fed, ketimbang pada berita spesifik kripto.
Bitcoin kesulitan mempertahankan area $77.000 karena meningkatnya imbal hasil Surat Utang (Treasury) AS dan melonjaknya harga minyak menambah tekanan pada aset berisiko menjelang laporan inflasi AS terbaru.
Imbal hasil Treasury 10 tahun berada di kisaran 4,94%, sementara Brent telah naik hingga setinggi $109 per barel. Harga energi yang lebih tinggi memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap tinggi, yang berpotensi membatasi kemampuan Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter dan menjaga biaya pinjaman lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Hal ini menciptakan lingkungan yang sulit bagi Bitcoin. Ketika imbal hasil mendekati 5%, investor memiliki insentif yang lebih kuat untuk memegang aset pendapatan tradisional dibandingkan aset yang lebih berisiko dan tidak menghasilkan imbal hasil seperti BTC. Indeks Dolar yang berada di sekitar 99,15 turut menambah tekanan.
CPI Bisa Menentukan Langkah Berikutnya Bitcoin
Katalis terbesar adalah Indeks Harga Konsumen AS (U.S. Consumer Price Index). Pembacaan inflasi yang lebih lemah dari perkiraan dapat menurunkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga lanjutan, sehingga berpotensi memberi ruang bagi Bitcoin dan aset berisiko lainnya untuk pulih.
Namun, data inflasi yang kembali panas dapat mendorong imbal hasil Treasury dan dolar makin tinggi, sehingga menciptakan tekanan jual tambahan di seluruh kripto dan saham.
Secara teknis, Bitcoin tengah mendekati EMA 50 minggu di sekitar $77.374 setelah gagal menembus resistensi Fibonacci kunci. Penutupan mingguan di bawah level ini dapat menjadi sinyal pelemahan momentum dan membuka paparan ke wilayah $70.000.
Untuk saat ini, $77.000–$77.400 adalah zona kunci yang perlu dipantau. Langkah besar berikutnya Bitcoin mungkin lebih bergantung pada inflasi, harga minyak, imbal hasil Treasury, dan keputusan berikutnya The Fed, ketimbang pada berita spesifik kripto.