Coba pikirkan, apakah kamu juga punya kebiasaan buruk ini:
Kamu mengincar satu jenis koin tertentu, tapi merasa harga saat ini tidak cocok, lalu menunggu koreksi agar bisa masuk.
Hasilnya, koin tersebut langsung naik 10%. Nah, sekarang kamu malah makin enggan untuk membelinya: “Dulu semurah itu saja aku nggak beli, sekarang kenapa aku harus mengejar?”
Saat sudah naik 20%, kamu merasa koreksi pasti akan segera terjadi; saat naik 50%, kamu bahkan makin tidak berani menyentuhnya. Pada akhirnya, kamu cuma bisa menonton harga terus bergerak tanpa ikut.
Sebagian besar yang “kelewatan” (tidak masuk), bukan karena salah arah. Tapi karena terpaku oleh harga-harga masa lalu. Pasar tidak akan sengaja turun dulu hanya agar menunggu kamu naik.
Kita tidak seharusnya selalu memikirkan: “Apa ia bisa turun kembali ke harga ideal yang ada di kepalaku?” Yang lebih penting adalah: dari posisi harga saat ini, apakah rasio risiko-imbal hasil di masa depan masih layak untuk diikuti?
Kalau penilaianmu tetap menunjukkan masih ada nilai untuk strategi, tetapi kamu takut mengejar harga, maka lebih baik mulai dengan posisi kecil sebagai dasar. Saat turun, tambah secara bertahap; saat naik, setidaknya kamu sudah berada di dalam posisi.
Berinvestasi tidak perlu memaksa untuk membeli di titik terendah absolut. Harga masa lalu yang sudah terlewat tidak punya arti sebagai acuan. Yang menjadi dasar utama adalah harga saat ini, ditambah dengan potensi ruang kenaikan ke depannya—itulah yang menentukan apakah layak untuk bertindak.
Kamu mengincar satu jenis koin tertentu, tapi merasa harga saat ini tidak cocok, lalu menunggu koreksi agar bisa masuk.
Hasilnya, koin tersebut langsung naik 10%. Nah, sekarang kamu malah makin enggan untuk membelinya: “Dulu semurah itu saja aku nggak beli, sekarang kenapa aku harus mengejar?”
Saat sudah naik 20%, kamu merasa koreksi pasti akan segera terjadi; saat naik 50%, kamu bahkan makin tidak berani menyentuhnya. Pada akhirnya, kamu cuma bisa menonton harga terus bergerak tanpa ikut.
Sebagian besar yang “kelewatan” (tidak masuk), bukan karena salah arah. Tapi karena terpaku oleh harga-harga masa lalu. Pasar tidak akan sengaja turun dulu hanya agar menunggu kamu naik.
Kita tidak seharusnya selalu memikirkan: “Apa ia bisa turun kembali ke harga ideal yang ada di kepalaku?” Yang lebih penting adalah: dari posisi harga saat ini, apakah rasio risiko-imbal hasil di masa depan masih layak untuk diikuti?
Kalau penilaianmu tetap menunjukkan masih ada nilai untuk strategi, tetapi kamu takut mengejar harga, maka lebih baik mulai dengan posisi kecil sebagai dasar. Saat turun, tambah secara bertahap; saat naik, setidaknya kamu sudah berada di dalam posisi.
Berinvestasi tidak perlu memaksa untuk membeli di titik terendah absolut. Harga masa lalu yang sudah terlewat tidak punya arti sebagai acuan. Yang menjadi dasar utama adalah harga saat ini, ditambah dengan potensi ruang kenaikan ke depannya—itulah yang menentukan apakah layak untuk bertindak.