Angka inflasi terus “mentok” di 3,4%, yang sebenarnya paling diperhatikan pasar bukan angka itu sendiri, melainkan keterukurannya yang terasa lengket. Harga sektor jasa tidak kunjung turun, sehingga suku bunga riil tetap berada di level tinggi. Itu menekan segala aset yang tidak menghasilkan arus kas—terutama aset kripto. Namun, kalau dilihat dari sudut lain, semakin lama penekanan berlangsung, ketika datanya benar-benar berbalik, ruang untuk rebound pun akan semakin besar. Sensitivitas aset semacam ini memang umumnya lebih tinggi dibanding aset lain. Saat ini sikap pelaku dana terlihat serba-bimbang: di satu sisi tidak berani mengejar kenaikan, di sisi lain takut ketinggalan (terlepas). Maka pergerakan pasar pun seperti diulang-ulang, bolak-balik. Penentu sesungguhnya ada pada redaksi rapat kebijakan minggu depan: apakah akan tetap condong hawkish, atau mulai membuka peluang pelonggaran sepanjang tahun ini. Menurut Anda, kekakuan data yang “lengket” ini akan menyeret ekspektasi pelonggaran hingga setelah akhir tahun?