Ini adalah KTT negara-negara BRICS yang kembali digelar untuk tahun yang lain, dan saat ini sedang berlangsung di New Delhi, India. A-jiem sangat memperhatikan peristiwa ini, bukan hanya karena saya pernah ikut secara langsung dalam persiapan KTT 23 tahun lalu di Afrika Selatan, tetapi juga karena tema KTT ini semakin menonjol di tengah pelemahan dolar AS saat ini. Para Menteri Keuangan dan Gubernur bank sentral negara-negara BRICS sebelumnya telah mengajukan untuk mendorong interoperabilitas sistem pembayaran, serta pembayaran lintas negara yang lebih murah dan lebih cepat.
Kalau dikatakan juga ini tidak terlalu mengejutkan, karena setiap beberapa waktu selalu ada orang yang mengatakan BRICS akan menggantikan dolar AS, dan saya kurang setuju dengan narasi yang terlalu sederhana seperti itu. Sistem dolar AS terlalu dalam dan saling terkait: obligasi, perbankan, perdagangan, komoditas, hingga derivatif keuangan semuanya terikat menjadi satu. Dalam jangka pendek, BRICS sama sekali tidak mungkin dapat menggantikan keseluruhan sistem dolar.
Menurut A-jiem, makna KTT BRICS lebih banyak terletak pada kemampuannya melakukan hal lain, yaitu memberi lebih banyak negara pilihan “jalur kedua”. Dalam sistem keuangan, yang paling penting bukanlah siapa yang bisa menggantikan siapa secara total, melainkan apakah Anda memiliki rencana cadangan. Arah ini lebih layak mendapat perhatian dibanding sekadar slogan “de-dolarisasi”. Ia merupakan cabang yang berbeda dalam tren besar yang sama dengan stablecoin, CBDC, dan RWA.
Ngomong-ngomong, masalah KTT saat ini juga sangat jelas. KTT kali ini memiliki anggota seperti Tiongkok, India, Rusia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Hubungan India dan Rusia sangat baik, tetapi India bergantung pada pasar Amerika Serikat; Iran dan Uni Emirat Arab sama-sama anggota BRICS, namun berada pada posisi yang berbeda dalam konflik regional. Jadi, jika BRICS benar-benar ingin menjadi satu sistem keuangan yang terpadu, itu jauh dari semudah sekadar menyerukan slogan.
Penilaian A-jiem adalah BRICS dalam waktu dekat sulit menggantikan dolar AS, tetapi ia dapat mendorong lebih banyak negara untuk mulai mengurangi risiko yang muncul dari ketergantungan pada satu sistem penyelesaian saja. Justru itu bisa menciptakan ruang bagi stablecoin, jaringan pembayaran regional, dan penyelesaian mata uang digital.
Kalau dikatakan juga ini tidak terlalu mengejutkan, karena setiap beberapa waktu selalu ada orang yang mengatakan BRICS akan menggantikan dolar AS, dan saya kurang setuju dengan narasi yang terlalu sederhana seperti itu. Sistem dolar AS terlalu dalam dan saling terkait: obligasi, perbankan, perdagangan, komoditas, hingga derivatif keuangan semuanya terikat menjadi satu. Dalam jangka pendek, BRICS sama sekali tidak mungkin dapat menggantikan keseluruhan sistem dolar.
Menurut A-jiem, makna KTT BRICS lebih banyak terletak pada kemampuannya melakukan hal lain, yaitu memberi lebih banyak negara pilihan “jalur kedua”. Dalam sistem keuangan, yang paling penting bukanlah siapa yang bisa menggantikan siapa secara total, melainkan apakah Anda memiliki rencana cadangan. Arah ini lebih layak mendapat perhatian dibanding sekadar slogan “de-dolarisasi”. Ia merupakan cabang yang berbeda dalam tren besar yang sama dengan stablecoin, CBDC, dan RWA.
Ngomong-ngomong, masalah KTT saat ini juga sangat jelas. KTT kali ini memiliki anggota seperti Tiongkok, India, Rusia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Hubungan India dan Rusia sangat baik, tetapi India bergantung pada pasar Amerika Serikat; Iran dan Uni Emirat Arab sama-sama anggota BRICS, namun berada pada posisi yang berbeda dalam konflik regional. Jadi, jika BRICS benar-benar ingin menjadi satu sistem keuangan yang terpadu, itu jauh dari semudah sekadar menyerukan slogan.
Penilaian A-jiem adalah BRICS dalam waktu dekat sulit menggantikan dolar AS, tetapi ia dapat mendorong lebih banyak negara untuk mulai mengurangi risiko yang muncul dari ketergantungan pada satu sistem penyelesaian saja. Justru itu bisa menciptakan ruang bagi stablecoin, jaringan pembayaran regional, dan penyelesaian mata uang digital.
