Logam melemah karena emas bergerak seiring perdagangan The Fed, tembaga bergerak mengikuti tarif AS, dan perdagangan bijih besi–litium mengarah ke China

🥇 Spot emas turun sekitar 2–2,5% pekan ini, sementara perak melemah kira-kira 3–4% karena data inflasi AS memperkuat ekspektasi pengetatan Fed lebih lanjut. Imbal hasil di sekitar 5% mengalahkan permintaan safe-haven akibat ketegangan Hormuz, membuat emas mengalami penurunan mingguan ketiga berturut-turut meski ada rebound pada hari Jumat ketika harga minyak mereda.

📉 Posisi untuk jangka lebih panjang belum menunjukkan pembalikan yang jelas. Kepemilikan ETF emas global masih berada di dekat level rekor dan posisi spekulatif masih sangat long, yang menunjukkan penurunan lebih banyak didorong oleh imbal hasil riil dan biaya pendanaan, bukan oleh pelepasan secara luas (broad liquidation).

🟠 Tembaga menjadi pergerakan paling menonjol di antara logam dasar. Setelah COMEX dan LME mencapai rekor tertinggi, harga anjlok tajam setelah laporan menyebutkan Gedung Putih belum memutuskan tarif untuk tembaga olahan. COMEX turun lebih dari 5% pada hari Kamis, sementara struktur harga tunai LME bergeser dari premi menjadi diskon, menandakan berkurangnya ketatnya pasokan dalam waktu dekat.

⛏️ Pasokan dari tambang tetap terkendala. Biaya pengolahan (treatment charges) turun hingga nol atau bahkan negatif karena Chile, Grasberg, dan Kamoa-Kakula menghadapi tekanan produksi. Konsentrat masih ketat meski persediaan katoda AS tetap tinggi setelah arus masuk besar ke COMEX.

🏗️ Bijih besi sempat bergerak di atas 100 USD/t sebelum mundur menuju 97 USD seiring melemahnya margin baja Tiongkok. Litium juga masih tertekan oleh kelebihan pasokan dan persediaan, sehingga kedua pasar lebih banyak terikat pada permintaan yang spesifik terhadap China.

📆 Untuk periode 14–18 September, emas dan perak akan berfokus pada The Fed, tembaga pada sinyal tarif AS, sedangkan bijih besi dan litium tetap terhubung dengan kondisi industri Tiongkok.

#Metals $XAU $XAG $COPPER