Infrastruktur sudah lama siap, dan likuiditasnya juga cukup dalam. Tapi ada satu angka yang terus membuat saya merasa ada yang tidak beres—laporan gabungan McKinsey dan Artemis menunjukkan volume transaksi stablecoin mencapai 3,5 triliun dolar AS, tetapi hanya 1% yang benar-benar termasuk pembayaran yang nyata. Penggunaan di sisi konsumen nyaris tidak ada.

Masalahnya di mana? CEO WalletConnect memberi jawaban yang sangat lugas: sekitar 76% pengguna pernah meninggalkan pembayaran kripto setidaknya sekali dalam enam bulan terakhir, dengan alasan yang terkonsentrasi pada biaya gas, pengaturan dompet, error saat transaksi, dan keterlambatan penyelesaian. Banyak orang sebenarnya sudah punya token pembayaran yang tepat, tetapi mereka kekurangan token lain untuk membayar biaya, lalu transaksi pun macet.

Ini bukan masalah teknis, melainkan masalah desain produk.

PolyFlow’s Pelago Connect telah mencoba beberapa pendekatan di jalur ini—pelanggan bisa menyelesaikan pembayaran hanya dengan memindai QR, tanpa perlu menghubungkan dompet penjual. Bagi konsumen, mengurangi satu langkah berarti mengurangi satu alasan untuk berhenti.

Namun yang benar-benar sulit bukan sekadar momen memindai; kesulitannya justru sebelum memindai. Pengguna harus sudah punya dompet, harus sudah punya stablecoin, dan harus memahami mengapa diperlukan dua token. PID berupaya mengompresi verifikasi identitas dan bukti pembayaran menjadi satu operasi on-chain yang bersifat sekali pakai, agar integrasi di sisi merchant menjadi lebih sederhana. Tapi beban pemahaman di sisi konsumen tidak bisa sepenuhnya ditangani hanya oleh protokol.

Tujuan akhir pembayaran stablecoin mungkin bukan “pembayaran kripto yang lebih baik”, melainkan pengguna sama sekali tidak merasakan adanya kripto. PolyFlow bergerak ke arah itu, tetapi masih ada jarak menuju kondisi “tanpa terasa”.

@polyflow_PayFi #polyflow