Hampir bisa dipastikan kenaikan suku bunga pada bulan September, malah pasar melonjak? Apakah karena sentimen buruk sudah habis? Tidak sesederhana itu!
Baru saja setelah data CPI dirilis, probabilitas pasar untuk kenaikan suku bunga di bulan September yang semula sebelum pengumuman berada di kisaran sekitar 68% langsung melonjak mendekati 90%. Secara teori, ini jelas merupakan sinyal yang lebih “hawkish”. Karena itu, kita bisa mengharapkan Bitcoin dan emas akan mengalami penurunan tajam dengan cepat, bahkan berpotensi melemah lebih lanjut. Namun nyatanya pergerakan pasar justru sangat tidak sesuai ekspektasi: pertama muncul semacam “needle” penurunan yang jelas, lalu segera terjadi rebound besar. Bitcoin sempat memantul mendekati 2000 dolar, dan emas juga menunjukkan perbaikan yang sangat kuat.
Mengapa pola seperti ini layak mendapat perhatian? Saya rasa kali ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kalimat seperti “sentimen buruk sudah berlalu, berarti itu kabar baik”, karena ekspektasi kenaikan suku bunga sebenarnya justru terus memanas, dan sentimen buruknya belum hilang.
Yang benar-benar layak dicermati justru apa yang terjadi di pasar suku bunga.
Kita akan melihat bahwa setelah CPI diumumkan, suku bunga di tenor pendek terus bergerak naik. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 2 tahun bereaksi sangat langsung terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, setelah sempat naik tinggi, suku bunga di tenor panjang justru jelas menurun: imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun kembali ke sekitar 4,95%. Artinya, pasar memang sedang mengantisipasi The Fed yang lebih hawkish, tetapi “kehawkishannya” lebih terkonsentrasi di tenor pendek, dan belum berkembang menjadi penetapan ulang (repricing) terhadap inflasi jangka panjang serta kekhawatiran kendali yang lepas terhadap suku bunga jangka panjang.
Di sinilah muncul perubahan yang sangat penting: pasar mungkin mulai berpikir bahwa meskipun tekanan inflasi yang sedang terjadi perlu ditekan oleh The Fed melalui satu dua kali kenaikan suku bunga, itu tidak berarti semua tahun ke depan harus mempertahankan lingkungan suku bunga yang semakin tinggi.
Apalagi, pada putaran inflasi kali ini, faktor energi memang sangat jelas. Kenaikan CPI pada bulan Agustus sebagian besar berasal dari harga bensin dan energi, sementara harga energi saat ini juga dipengaruhi oleh situasi di Timur Tengah.
Jadi, yang sedang diperdagangkan pasar sekarang mungkin bukan “inflasi jadi tidak terkendali”, melainkan logika yang lain: inflasi jangka pendek bisa saya tahan; satu atau dua kali kenaikan suku bunga dalam jangka pendek juga masih bisa saya terima. Tetapi selama ekspektasi inflasi jangka panjang tidak lepas kendali, dan imbal hasil suku bunga jangka panjang tidak terus melonjak liar, skenario yang paling berbahaya sebenarnya tidak terjadi. #CPI数据来袭能否触发9月加息
Baru saja setelah data CPI dirilis, probabilitas pasar untuk kenaikan suku bunga di bulan September yang semula sebelum pengumuman berada di kisaran sekitar 68% langsung melonjak mendekati 90%. Secara teori, ini jelas merupakan sinyal yang lebih “hawkish”. Karena itu, kita bisa mengharapkan Bitcoin dan emas akan mengalami penurunan tajam dengan cepat, bahkan berpotensi melemah lebih lanjut. Namun nyatanya pergerakan pasar justru sangat tidak sesuai ekspektasi: pertama muncul semacam “needle” penurunan yang jelas, lalu segera terjadi rebound besar. Bitcoin sempat memantul mendekati 2000 dolar, dan emas juga menunjukkan perbaikan yang sangat kuat.
Mengapa pola seperti ini layak mendapat perhatian? Saya rasa kali ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kalimat seperti “sentimen buruk sudah berlalu, berarti itu kabar baik”, karena ekspektasi kenaikan suku bunga sebenarnya justru terus memanas, dan sentimen buruknya belum hilang.
Yang benar-benar layak dicermati justru apa yang terjadi di pasar suku bunga.
Kita akan melihat bahwa setelah CPI diumumkan, suku bunga di tenor pendek terus bergerak naik. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 2 tahun bereaksi sangat langsung terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, setelah sempat naik tinggi, suku bunga di tenor panjang justru jelas menurun: imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun kembali ke sekitar 4,95%. Artinya, pasar memang sedang mengantisipasi The Fed yang lebih hawkish, tetapi “kehawkishannya” lebih terkonsentrasi di tenor pendek, dan belum berkembang menjadi penetapan ulang (repricing) terhadap inflasi jangka panjang serta kekhawatiran kendali yang lepas terhadap suku bunga jangka panjang.
Di sinilah muncul perubahan yang sangat penting: pasar mungkin mulai berpikir bahwa meskipun tekanan inflasi yang sedang terjadi perlu ditekan oleh The Fed melalui satu dua kali kenaikan suku bunga, itu tidak berarti semua tahun ke depan harus mempertahankan lingkungan suku bunga yang semakin tinggi.
Apalagi, pada putaran inflasi kali ini, faktor energi memang sangat jelas. Kenaikan CPI pada bulan Agustus sebagian besar berasal dari harga bensin dan energi, sementara harga energi saat ini juga dipengaruhi oleh situasi di Timur Tengah.
Jadi, yang sedang diperdagangkan pasar sekarang mungkin bukan “inflasi jadi tidak terkendali”, melainkan logika yang lain: inflasi jangka pendek bisa saya tahan; satu atau dua kali kenaikan suku bunga dalam jangka pendek juga masih bisa saya terima. Tetapi selama ekspektasi inflasi jangka panjang tidak lepas kendali, dan imbal hasil suku bunga jangka panjang tidak terus melonjak liar, skenario yang paling berbahaya sebenarnya tidak terjadi. #CPI数据来袭能否触发9月加息
