Brent Tembus 100 Dolar: Kali Ini Bukan Karena Permintaan Lagi Ramai, Tapi Minyak Macet di Jalan

Brent semalam menembus 101,21 dolar, naik 3,36%, untuk pertama kalinya sejak akhir Juli kembali berdiri di atas angka bulat 100. Namun, tembus 100 kali ini sifatnya berbeda—bukan karena semua orang tiba-tiba butuh lebih banyak minyak, melainkan karena minyak “terjebak” dan tak bisa sampai.

Dalam satu minggu, militer AS menjatuhkan 10 kapal tanker minyak Iran. Iran lalu membalas dengan serangan di sekitar Selat Hormuz terhadap 10 kapal. Ini adalah perkelahian di laut terbesar sejak setengah tahun perang dimulai. Kelompok Houthi juga tidak tinggal diam; puluhan rudal dan drone menyerbu cepat Saudi Aramco, dan beberapa fasilitas energi dilaporkan terbakar. Selat Hormuz sehari hanya bisa dilewati beberapa kapal, stok masih terus menurun, maka wajar bila harga minyak ikut merangkak naik. Ada lembaga yang memperkirakan, jika selat benar-benar tersendat total, harga minyak bisa melonjak menuju 120.

Namun setelah menembus 100, pasar langsung “sadar”—harga minyak yang makin tinggi membuat inflasi semakin sulit ditekan. Ada perhitungan yang menyebut, jika harga minyak bertahan di kisaran 100, inflasi AS bisa didorong kembali dari 2,4% ke lebih dari 4%. Data CME menunjukkan probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September melonjak tajam menjadi 60% dalam semalam. Ini tentu kabar buruk bagi saham maupun dunia kripto.

Lalu ke depan bagaimana? Potensi volatilitas tinggi di zona atas—perbedaan pandangan antara pihak bullish dan bearish cukup besar. Untuk jangka pendek, perhatikan baik-baik batas 97,8: selama masih dijaga, kubu bullish masih punya kesempatan untuk kembali menembak sekali lagi; jika tembus ke bawah, kemungkinan akan terjadi pullback ke 94. Jangan kejar harga tinggi, jangan mencoba bottom catching—tunggu arah jelas baru ikut. Sinyal dari pemberitaan terkait selat lebih penting daripada K-line; bersabar dan tunggu.

Karena kondisi ini, tidak bisa buru-buru. Tenang saja, saudara-saudaraku!