Kutukan Bulan September, ilmu gaib atau logika keras? Peluru Anda sudah siap?

Pepatah lama “Sell in May and go away” terdengar seperti lelucon, tapi sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa dasar. Hari ini kita uraikan bersama: dari mana asal “kutukan September” di pasar saham AS ini.

Pertama, tampilkan data keras: sejak 1928 sampai sekarang, dari kinerja historis S&P 500 selama 12 bulan, September adalah satu-satunya bulan yang rata-rata berakhir dengan penurunan; nilai rata-ratanya sekitar turun 1,17%. Ini bukan sekadar takhayul. Di baliknya ada tiga logika yang benar-benar bisa dibuktikan——

① Tekanan jual pasif karena rotasi akhir kuartal. September adalah akhir kuartal tiga. Dana pensiun, reksa dana amal, dan institusi besar semacam ini punya batas tegas untuk posisi ekuitas. Jika selama setahun terakhir saham sudah naik terlalu banyak, di akhir kuartal mereka harus menjual secara pasif untuk menyesuaikan kembali proporsi. Ini bukan sikap bearish, ini disiplin.

② Periode bisu laporan keuangan, jeda buyback. September biasanya jadi masa “sunyi” sebelum laporan keuangan, sehingga aksi buyback perusahaan yang biasanya menjadi “penopang pembelian” akan menyusut secara nyata. Ketika tangan terkuat yang biasanya menyokong tidak ada di bawah, pasar cenderung lebih mudah bergerak turun.

③ Padat peristiwa, sentimen defensif makin menguat. September tahun ini tidak kondusif: 10 September PPI, 11 September CPI, 16 September keputusan suku bunga The Fed—tiga “bom” datang satu per satu. Dan tahun ini juga bertepatan dengan tahun pemilu sela, jadi sulit untuk membuat volatilitas tidak membesar.

Yang lebih patut diwaspadai adalah statistik dari BTIG: sejak 1990, pada setiap tahun pemilu sela, dalam rentang Agustus sampai Oktober, S&P 500 equal-weight—kecuali tahun 2000—rata-rata turun minimal 7%. Jika difokuskan pada jendela 18 Agustus—11 Oktober, S&P 500 rata-rata melemah sekitar 5%, Nasdaq rata-rata turun 7%, dan Russell 2000 rata-rata turun 8%. Sejarah memang tidak akan mengulang persis, tapi ritmenya sering kali tetap selaras.

Lalu sekarang harus bagaimana?

VIX masih di kisaran 14-an, tergeletak di level rendah—justru ini momen yang relatif murah untuk membeli proteksi dan mengunci hedging dengan Put. Dengan biaya kecil, Anda bisa membeli rasa aman.

Tapi jangan biarkan diri sendiri jadi takut berlebihan: untuk saham/stock yang bobot posisinya tidak besar, jangan asal bergerak. Kalau memang ada “sekali lagi ada yang tak terduga” yang membalik situasi, justru di situlah sering tersimpan sumber dari imbal hasil berlebih. Yang benar-benar perlu dilakukan adalah menyiapkan peluru: tunggu sampai seluruh pasar sedang paling panik, saat Anda paling tidak ingin mengambil tindakan—baru kemudian menarik pelatuk.

Pada akhirnya, dalam urusan investasi, delapan kata ini cukup: “Jika orang meninggalkan, ambil; jika orang mengambil, berikan.”