Terkejut, ternyata ada cara licik seperti ini untuk memalsukan kewarganegaraan Jerman.
Jerman punya aturan: pada era Nazi, orang-orang yang dicabut kewarganegaraan Jermannya, serta keturunan mereka, dapat mengajukan permohonan agar kewarganegaraan itu dipulihkan.
Hasilnya, ada 32 orang—kebanyakan orang Tiongkok. Dengan bantuan perantara di Israel, mereka menambahkan anak-anak atas nama pasangan suami-istri Jerman yang memiliki keturunan. Sederhananya, ini adalah cara “menumpang” ayah berkewarganegaraan Jerman secara nama, untuk mendapatkan identitas Jerman.
Namun masalahnya, pasangan-pasangan itu tidak tahu bahwa secara tiba-tiba, dokumen mereka jadi bertambah beberapa anak laki-laki/perempuan. Lalu berlanjut hingga mengarang cucu-cicit. Akhirnya, klien tersebut berubah menjadi keturunan dari anak-anak fiktif yang juga fiktif.
Dan kasus ini terbongkar karena kurang lebih setahun lalu, warga di London melaporkan ke kejaksaan setempat. Disebutkan ada seorang saudara Tiongkok yang menyusun silsilah lengkap tentang keturunan korban Holocaust, lalu mengurus kewarganegaraan Jerman.
Jaksa dan polisi federal kemudian membuka penyelidikan. Setelah ditelusuri, ternyata makin besar—hingga sekarang menjadi 32 orang.
Selain itu, pada tahun 2024 ada seorang bernama Liu Moudi yang membunuh dan membungkam dua pengusaha Tiongkok di Filipina, dan salah satunya memiliki kewarganegaraan Amerika. Ketika FBI melacak, ditemukan bahwa dia dan keluarganya memegang paspor Jerman, tetapi identitasnya tidak cocok.
Lalu pada bulan Oktober tahun yang sama, setelah dia ditangkap di AS, ia mengaku bahwa ia menghabiskan sekitar 600.000 dolar AS. Dalam waktu lebih dari setahun, dia berhasil mengurus kewarganegaraan Jerman, dengan memalsukan dirinya sebagai keturunan orang yang pada era Nazi dicabut kewarganegaraan Jermannya. Petunjuk ini juga disinkronkan kepada polisi Jerman.
Pada akhirnya, jalur masuk kewarganegaraan Jerman yang abu-abu dan cepat ini akhirnya berhasil dibongkar.
Jerman punya aturan: pada era Nazi, orang-orang yang dicabut kewarganegaraan Jermannya, serta keturunan mereka, dapat mengajukan permohonan agar kewarganegaraan itu dipulihkan.
Hasilnya, ada 32 orang—kebanyakan orang Tiongkok. Dengan bantuan perantara di Israel, mereka menambahkan anak-anak atas nama pasangan suami-istri Jerman yang memiliki keturunan. Sederhananya, ini adalah cara “menumpang” ayah berkewarganegaraan Jerman secara nama, untuk mendapatkan identitas Jerman.
Namun masalahnya, pasangan-pasangan itu tidak tahu bahwa secara tiba-tiba, dokumen mereka jadi bertambah beberapa anak laki-laki/perempuan. Lalu berlanjut hingga mengarang cucu-cicit. Akhirnya, klien tersebut berubah menjadi keturunan dari anak-anak fiktif yang juga fiktif.
Dan kasus ini terbongkar karena kurang lebih setahun lalu, warga di London melaporkan ke kejaksaan setempat. Disebutkan ada seorang saudara Tiongkok yang menyusun silsilah lengkap tentang keturunan korban Holocaust, lalu mengurus kewarganegaraan Jerman.
Jaksa dan polisi federal kemudian membuka penyelidikan. Setelah ditelusuri, ternyata makin besar—hingga sekarang menjadi 32 orang.
Selain itu, pada tahun 2024 ada seorang bernama Liu Moudi yang membunuh dan membungkam dua pengusaha Tiongkok di Filipina, dan salah satunya memiliki kewarganegaraan Amerika. Ketika FBI melacak, ditemukan bahwa dia dan keluarganya memegang paspor Jerman, tetapi identitasnya tidak cocok.
Lalu pada bulan Oktober tahun yang sama, setelah dia ditangkap di AS, ia mengaku bahwa ia menghabiskan sekitar 600.000 dolar AS. Dalam waktu lebih dari setahun, dia berhasil mengurus kewarganegaraan Jerman, dengan memalsukan dirinya sebagai keturunan orang yang pada era Nazi dicabut kewarganegaraan Jermannya. Petunjuk ini juga disinkronkan kepada polisi Jerman.
Pada akhirnya, jalur masuk kewarganegaraan Jerman yang abu-abu dan cepat ini akhirnya berhasil dibongkar.


