Yang benar-benar kamu transaksikan kadang adalah “dirimu yang lain”.

Tempat paling menakutkan di pasar bukanlah karena ia bisa naik atau turun.

Melainkan karena ia selalu mampu menemukan celah kelemahan manusia dengan sangat tepat.

Saat harga turun,

ketakutan membuatmu menjual di posisi terendah.

Saat harga naik,

tamak membuatmu melupakan risikonya.

Saat harga bergerak menyamping,

kebosanan membuatmu sering melakukan transaksi.

Setelah meraih profit secara beruntun,

kepercayaan diri perlahan berubah menjadi kesombongan.

Setelah mengalami kerugian berturut-turut,

ketidakpuasan membuatmu buru-buru untuk mengejar balik.

Yang paling menarik adalah—

pasar tidak pernah memaksamu melakukan apa pun.

Candlestick hanya tergeletak di sana.

Yang benar-benar membuatmu mengejar kenaikan, menahan posisi, memakai modal besar, dan melakukan trading balas dendam,

selalu saja dirimu.

Jadi belakangan aku semakin merasa:

di ujungnya, dalam trading,

mungkin yang tidak lagi dibandingkan adalah siapa yang lebih jago memprediksi pergerakan.

Melainkan siapa yang bisa, berulang kali,

mengalahkan dirinya sendiri—yang ingin untung cepat, takut ketinggalan, dan tidak mau mengakui kesalahan.

Pasar setiap hari berubah,

tapi selama ratusan tahun,

sifat manusia hampir tidak pernah berubah.

Dan inilah kemungkinan kenapa cerita-cerita yang mirip

selalu terulang di dalam pasar.

Trader yang benar-benar matang bukanlah orang yang tidak punya tamak dan takut.

Melainkan orang yang tahu saat keduanya muncul,

dia tidak membiarkan mereka yang memesan transaksi atas namanya.

Menurutmu, kelemahan terbesar apa dalam tradingmu?

tamak, takut, tidak mau menerima keadaan, atau FOMO?#Harga minyak naik ke level tertinggi dalam 7 bulan terakhir