Sering menerima komentar penggemar
“Bos, kamu ada waktu untuk sering posting artikel ya, bahkan kalau kamu nggak analisis pasar, tiap hari tetap menulis konten buat aku buat berbagi sedikit pengetahuan, atau sekalian bahas pandangan harian juga aku tetap senang. Membaca artikelmu bikin hati aku senang.”
Aku masih ingat tahun lalu aku menerima komentar dari seorang penggemar. Di bawah setiap artikelnya, dia selalu meninggalkan komentar, bilang bahwa dia mau masuk tentara—selama 3 tahun. Setiap artikelnya, dia membacanya dengan serius sekali. Dia khawatir setelah dia selesai dinas 3 tahun, aku akan mencapai kebebasan finansial lalu keluar dari dunia ini, jadi dia tidak akan bisa melihatku lagi.
Aku total sudah memposting lebih dari 3.000 artikel. Pada seminggu sebelum dia berangkat, dia membaca semua artikleku satu kali, memberi like dan komentar. Waktu itu aku sedang melakukan peninjauan ulang yang sangat sulit.
Waktu itu aku benar-benar ingin mengambil screenshot komentar itu, lalu mengobrol dengan baik melalui pesan pribadi dengan saudara itu. Tapi aku merasa diriku punya “kebersihan status” yang agak obsesif—aku benar-benar terharu. Namun saat itu aku sudah tenggelam dalam suasana peninjauan ulang yang murni, jadi aku memilih untuk tidak membalas dulu. Nanti setelah dua hari, saat aku mencoba mencari lagi komentar itu, ternyata sudah tidak bisa ditemukan.
Selain itu, ada juga penggemar-penggemar lain yang terus menulis pesan pribadi: melihat ada orang yang memaki dan menyemprot aku dengan cerita yang tidak benar, mereka menenangkan aku, atau bahkan langsung berhadapan dengan si pembenci. Jujur saja, para penggemar ini semuanya bikin aku terharu.
Aku tahu akunku bukan yang paling mencolok—aku tidak terlalu mudah menipu anak baru untuk mengikuti. Tapi begitu seseorang sudah mem-follow aku, mereka akan cenderung terus memperhatikan dalam jangka panjang. Aku rasa ini semacam daya tarik kepribadian: keberanian untuk menggenggam takdir mati-matian, bahkan jika harus mencoba sampai ke batasnya. Aku ingin kalian tidak hanya melihat aku menulis dan melakukan trading, tapi yang lebih penting adalah semangat seperti ini—demi apa pun juga harus menggenggam takdir dengan kuat.
Saudara-saudaraku👬, kita sama-sama semangat. Aku sudah kembali.”