Kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang di AS dan negara-negara ekonomi besar lainnya memberi tekanan jangka pendek ke bawah pada Bitcoin, namun hal itu juga dapat meningkatkan daya tarik jangka panjang aset langka seperti mata uang kripto tersebut, menurut sebuah analisis.
Riset BLOFIN menyatakan dalam laporan terbaru pada 7 September bahwa imbal hasil Treasury yang lebih tinggi adalah faktor negatif jangka pendek bagi Bitcoin, tetapi seiring waktu mereka memperkuat tesis investasi terkait pencairan nilai mata uang (currency debasement). Laporan itu menambahkan bahwa likuiditas pada akhirnya akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah Bitcoin.
Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang di AS, Jepang, dan Eropa baru-baru ini naik ke level tertinggi dalam hitungan tahun bahkan puluhan tahun. Pada satu titik, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 30 tahun mencapai lebih dari 5,3%. Dalam periode yang sama, Bitcoin turun hingga level sekitar $77.000, sementara aset berisiko termasuk saham AS dan saham teknologi juga melemah.
Riset BLOFIN mengatakan imbal hasil obligasi yang tinggi sedang mengikis daya tarik aset berisiko. Dengan investor bisa memperoleh sekitar 5% dari surat utang pemerintah AS (U.S. Treasuries) jangka panjang, insentif untuk mengambil risiko tambahan menurun. Akibatnya, sebagian likuiditas bisa mengalir keluar dari aset yang bergejolak seperti Bitcoin dan saham teknologi.
Laporan tersebut menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil (yield) meningkatkan biaya pendanaan sekaligus menurunkan nilai kini dari imbal hasil masa depan. Bahkan jika Bitcoin dipandang sebagai aset moneter dalam jangka panjang, ia tetap berperilaku seperti aset berisiko dalam jangka pendek dan tetap sensitif terhadap likuiditas serta biaya pendanaan.
Meski demikian, Riset BLOFIN mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi pada akhirnya dapat memperkuat tesis investasi Bitcoin.
Perusahaan tersebut mengatakan Kementerian Keuangan (U.S. Treasury) AS telah memperluas pembelian kembali obligasi jangka panjang, meskipun tidak sampai tingkat yang sebanding dengan quantitative easing. Namun, jika imbal hasil Treasury terus naik, kemungkinan adanya langkah yang lebih kuat bisa meningkat, termasuk pembelian kembali yang lebih besar, perubahan pada struktur jatuh tempo penerbitan Treasury, dan berpotensi pelonggaran moneter oleh Federal Reserve.
Riset BLOFIN mengatakan arah Bitcoin akan bergantung, khususnya, pada apakah kepercayaan terhadap utang pemerintah melemah dan apakah intervensi kebijakan meluas. Laporan tersebut menyebutkan Bitcoin saat ini terjepit di antara dua kekuatan: imbal hasil bebas risiko yang menarik yang ditawarkan oleh suku bunga obligasi yang tinggi dan meningkatnya beban fiskal. Arah jangka pendeknya bisa berubah dengan cepat, dan langkah besar berikutnya pada akhirnya akan bergantung pada ke mana likuiditas mengalir.
