Dulu saya sangat takut memegang posisi kosong.
Selama akun saya punya uang, saya merasa seharusnya uang itu dikeluarkan untuk trading. Saat harga naik tajam, saya takut ketinggalan; saat harga turun tajam, saya ingin buy the dip; saat harga bergerak datar, saya ingin berjudi untuk menembus batas. Setiap hari saya membuka aplikasi trading, saya selalu merasa pasar sedang menunggu saya untuk melakukan order.
Di awal, bahkan saya menetapkan aturan untuk diri sendiri bahwa setiap hari saya harus melakukan beberapa transaksi.
Hasilnya adalah, saat kondisi pasar bagus orang cenderung mengejar kenaikan harga; saat kondisi pasar buruk orang cenderung asal bertransaksi; setelah mengalami kerugian beruntun, masih tidak bisa menahan diri untuk menambah ukuran posisi.
Suatu kali saya mengalami kerugian beberapa transaksi berturut-turut. Awalnya saya sudah sangat kesal, tapi pada malam harinya saya melihat ada satu koin yang tiba-tiba melonjak, dan tiba-tiba pikiran saya kembali bersemangat. Waktu itu saya sama sekali tidak memperhatikan posisinya dengan serius; yang saya pikirkan hanya bagaimana uang yang sebelumnya hilang harus saya balas.
Langsung kejar masuk.
Tidak lama kemudian, harga kembali jatuh.
Pada malam itu aku duduk di depan komputer menatap layar berjam-jam. Akhirnya tiba-tiba terasa sangat konyol. Dari awal sampai akhir, pasar tidak memaksaku untuk trading—aku sendiri yang memaksakan diri untuk trading.
Sejak saat itu, aku mulai benar-benar belajar untuk menunggu.
Aku juga memberi diriku 8 aturan besi.
**Aturan pertama: Posisi (risk/ukuran) tidak boleh memengaruhi kehidupan.** Pisahkan uang untuk trading dan uang untuk hidup. Kalau kamu ingin menghidupi keluarga dari trading, kamu tidak boleh sampai satu pergerakan pasar memengaruhi uang sewa, makan, dan kehidupan normal.
**Aturan kedua: Cut loss harus disiplin.** Rugi itu tidak mengerikan; yang mengerikan adalah setelah rugi masih terus mencari-cari alasan untuk kesalahan. Jika salah, akhiri—jangan biarkan satu kesalahan penilaian menyeret menjadi kerugian besar.
**Aturan ketiga: Jika tren tidak jelas, kurangi aktivitas.** Saat situasi pasar jelas, ikuti; saat arah membingungkan, istirahat. Tidak setiap hari cocok untuk menghasilkan uang, dan tidak setiap hari harus melakukan transaksi.
**Aturan keempat: Ambil posisi di harga rendah harus menunggu pasar stabil dengan sendirinya.** Saat turun, jangan buru-buru mengulurkan tangan; lihat dulu apakah dia masih bisa terus turun. Banyak orang yang mengaku “cut to bottom” sebenarnya hanya tersangkut lebih cepat daripada orang lain.
**Aturan kelima: Saat harga naik, terutama harus tetap tenang.** Tempat yang paling ramai biasanya paling mudah membuat orang kehilangan penilaian. Saat kamu melihat orang lain menghasilkan uang, jangan langsung bertanya “masih bisa naik lagi tidak?” Lebih dulu tanya diri sendiri: “Kalau saya baru beli sekarang, apakah saya bersedia menanggung potensi penurunan (retracement)?”
**Aturan keenam: Kalau emosi sedang buruk, jangan trading.** Setelah rugi buru-buru ingin balas, setelah profit mulai membesar-besarkan—dua kondisi ini sekarang aku akan hentikan secara sadar. Saat seseorang berada dalam kondisi emosional, sulit untuk membuat keputusan yang benar-benar rasional.
**Aturan ketujuh: Perubahan volume dan harga tidak boleh diabaikan.** Harga naik tidak berarti pasti tren sedang kuat; kamu harus lihat apakah ada partisipasi yang cukup dan daya dukung (support) yang kuat. Saat harga turun pun jangan langsung panik; yang kunci adalah melihat apakah setelah itu ada stabilisasi kembali.
**Aturan kedelapan: Jika tidak ada kesempatan, posisi kosong adalah jawabannya.** Aturan ini dulu paling sulit dilakukan, tapi sekarang justru paling mudah. Jika aku tidak melihat kesempatan yang familiar bagiku, aku lebih rela duduk sambil minum teh daripada demi membuktikan bahwa aku bisa trading, asal buka satu transaksi.
Dalam beberapa tahun terakhir, aku menemukan sesuatu yang cukup menarik.
Orang yang baru masuk dunia crypto biasanya suka meneliti cara membeli. Setelah trading beberapa saat, mereka mulai meneliti kapan harus menjual. Tapi kalau benar-benar sudah lama, justru mereka akan mulai meneliti kapan sebaiknya sama sekali tidak membeli.
Karena uang di pasar itu benar-benar tidak ada yang bisa dimenangkan habis-habisan.
Hari ini tidak berhasil ditangkap; bisa tunggu sampai besok. Jika terlewat di gelombang ini, bisa tunggu gelombang berikutnya. Tapi kalau kamu karena sekali melakukan entry berlebihan lalu mengejar harga, atau sekali “ngotot” tanpa cut loss hingga modal terkikis cukup besar, setelah itu apa pun kondisi pasar yang bagus pun tidak ada artinya bagimu.
Dulu yang kupikirkan adalah bisa dapat uang berapa banyak.

Sekarang yang kupikirkan adalah apakah bisa menghasilkan profit yang stabil dalam jangka panjang.
Dulu ketika aku melihat orang lain menghasilkan banyak dalam sehari, aku iri; sekarang ketika melihat orang lain menghasilkan banyak dalam sehari, reaksi pertamaku justru melihat seberapa besar risiko yang dia tanggung.
Karena orang yang benar-benar menghidupi diri dari trading, yang paling penting bukanlah seberapa bagus akunmu dalam satu hari, melainkan saat pasar bagus bisa menghasilkan, saat pasar buruk bisa bertahan, dan setelah melakukan kesalahan berulang masih punya kemampuan untuk memulai lagi.
Setelah lama trading, kamu akan sadar bahwa orang yang benar-benar hebat bukanlah yang selalu bertindak, melainkan yang tahu kapan harus menahan diri. Jika kamu bisa mengendalikan tanganmu, menjaga modalmu tetap utuh, lalu menunggu sampai kesempatan yang memang menjadi hakmu muncul—itulah awal seorang trader menuju kestabilan jangka panjang.
