Sekolah-sekolah di Kota New York akan melarang siswa sekolah dasar dan menengah menggunakan alat AI generatif pada tahun ajaran mendatang. Menurut Sina Finance, Wali Kota Zohran Mamdani mengatakan penundaan selama satu tahun ini akan berdampak pada lebih dari 600.000 siswa dan memberi pejabat pendidikan waktu untuk mempelajari dampak teknologi tersebut.

Kebijakan ini menuai kritik dari kedua kubu dalam perdebatan tentang AI di pendidikan. Beberapa kritikus mengatakan kota ini sedang mengambil alat pembelajaran yang berharga, sementara yang lain berpendapat bahwa pembatasan tersebut belum cukup ketat karena siswa masih dapat menggunakan program instruksional yang disetujui kota dan sebagian besar sekolah menengah atas dikecualikan.

Bree Dusseault, kepala dan direktur pelaksana Center on Reinventing Public Education di Arizona State University, mengatakan bahwa kebijakan tersebut tampak masuk akal bagi orang tua yang ingin anak-anak belajar menggunakan AI secara bertanggung jawab tanpa menjadi terlalu bergantung padanya. Ia mengatakan bahwa jeda sementara yang terbatas itu merupakan pendekatan kebijakan yang jelas namun fleksibel.

Menurut Sina Finance, kota itu juga akan merintis kursus literasi AI untuk siswa sekolah menengah atas dan menguji sejumlah terbatas alat pendidikan AI dalam lingkungan yang diawasi. Nicole Barnes, kepala psikolog eksekutif APA untuk pendidikan, mengatakan bahwa kebijakan tersebut bisa berhasil jika kota itu menguji alat dengan standar privasi data yang kuat yang membantu siswa belajar dan berpikir kritis, bukan sekadar menarik perhatian.