Kalau kamu baru mengenal kripto, kemungkinan besar kamu sudah pernah menemui dua istilah ini:

CEX dan DEX.

Keduanya memungkinkan pengguna untuk memperdagangkan kripto, tetapi cara kerjanya sangat berbeda.

CEX — Pertukaran Tersentralisasi

CEX dioperasikan oleh perusahaan terpusat yang mengelola platform dan infrastruktur perdagangannya.

Biasanya, kamu:

→ Buat akun

→ Setor aset

→ Lakukan transaksi melalui platform


Aset yang disetor ke CEX umumnya disimpan dalam penguasaan (custody) pihak bursa.


DEX — Pertukaran Terdesentralisasi

DEX menggunakan smart contract berbasis blockchain untuk memfasilitasi perdagangan.

Alih-alih menyetor aset Anda ke bursa terpusat, Anda umumnya menghubungkan dompet kripto milik Anda sendiri dan berinteraksi langsung dengan protokolnya.

Artinya, Anda mempertahankan kendali atas dompet Anda dan aset-asetnya.

Perbedaan terbesar apa?

Custody.

Dengan CEX, platform umumnya memegang kendali (custody) atas aset yang disimpan di sana.

Dengan DEX, Anda umumnya tetap memegang kendali atas aset melalui dompet Anda sendiri.

Self-custody memberi Anda kontrol yang lebih langsung, tetapi juga berarti Anda bertanggung jawab untuk mengamankan dompet Anda dan memahami transaksi yang Anda setujui.

Cara mudah untuk mengingatnya:

CEX → platform terpusat + model kustodian

DEX → protokol terdesentralisasi + self-custody

Keduanya tidak boleh dianggap sekadar “lebih baik”.

Mereka memiliki desain, pengalaman pengguna, risiko, dan trade-off yang berbeda.

Jika Anda sedang belajar kripto, memahami perbedaan ini adalah titik awal yang bagus sebelum beralih ke dompet, kunci pribadi, dan smart contract.

Mana yang harus kita bahas selanjutnya: Dompet atau Kunci Pribadi? 👇


Pelajari lebih lanjut melalui Binance Academy dan selalu DYOR.


#Binance #BinanceAcademy #learnwithbinance

Konten edukasi saja, bukan nasihat keuangan.

Ketersediaan, kelayakan, dan regulasi dapat bervariasi menurut wilayah.