@CZ jujur saja, setelah membacanya aku langsung merasa sangat puas. Ini bukan apa-apa yang namanya sikap dingin—ini justru mekanisme pertahanan pamungkas dari manajer waktu kelas atas.
Di dunia Web3, yang setiap hari dibombardir puluhan ribu pesan, kebanyakan dari apa yang disebut “komunikasi para bos besar” pada dasarnya hanyalah perekat semu bersosialisasi dengan biaya rendah. Setiap hari ada orang yang datang mendekat dengan membawa proposal yang sama sekali belum siap, mengira dengan sekadar mengirim “Selamat Natal” pun bisa ditukar dengan komunikasi yang efektif dari sang bos besar selama 15 menit. Intinya mereka ingin meminjam gratis sumber daya perhatian orang lain.
Aturan ala CZ ini di permukaan seolah mengajarkan kita cara mencari cara untuk berbicara dengannya, tapi pada kenyataannya ia langsung mengungkap aturan paling realistis dari lingkaran ini: nilai waktumu itu mahal, dan waktu para bos besar bahkan lebih mahal. Untuk bertahan di industri dengan benturan frekuensi tinggi seperti ini, sikap yang paling dasar adalah jangan pernah membungkus ketidakefisienanmu menjadi “sopan santun”. Kalimat pertama langsung saja jelaskan “aku siapa, aku butuh apa, atau aku bisa menawarkan apa”—ini seratus kali lebih efektif daripada segala basa-basi yang bertele-tele.
Bukan hanya untuk bos besar, bukankah dalam keseharian kita juga begitu saat menangani komunikasi kerja? Kalau ketemu yang cuma kirim “lagi sibuk?” lalu setelah itu tidak ngomong apa-apa, aku benar-benar ingin langsung memblokirnya.
Di dunia Web3, yang setiap hari dibombardir puluhan ribu pesan, kebanyakan dari apa yang disebut “komunikasi para bos besar” pada dasarnya hanyalah perekat semu bersosialisasi dengan biaya rendah. Setiap hari ada orang yang datang mendekat dengan membawa proposal yang sama sekali belum siap, mengira dengan sekadar mengirim “Selamat Natal” pun bisa ditukar dengan komunikasi yang efektif dari sang bos besar selama 15 menit. Intinya mereka ingin meminjam gratis sumber daya perhatian orang lain.
Aturan ala CZ ini di permukaan seolah mengajarkan kita cara mencari cara untuk berbicara dengannya, tapi pada kenyataannya ia langsung mengungkap aturan paling realistis dari lingkaran ini: nilai waktumu itu mahal, dan waktu para bos besar bahkan lebih mahal. Untuk bertahan di industri dengan benturan frekuensi tinggi seperti ini, sikap yang paling dasar adalah jangan pernah membungkus ketidakefisienanmu menjadi “sopan santun”. Kalimat pertama langsung saja jelaskan “aku siapa, aku butuh apa, atau aku bisa menawarkan apa”—ini seratus kali lebih efektif daripada segala basa-basi yang bertele-tele.
Bukan hanya untuk bos besar, bukankah dalam keseharian kita juga begitu saat menangani komunikasi kerja? Kalau ketemu yang cuma kirim “lagi sibuk?” lalu setelah itu tidak ngomong apa-apa, aku benar-benar ingin langsung memblokirnya.
