Setelah ucapan Wosh, ke mana arah pasar? Kesempatan apa yang kita miliki?
Begitu Wosh membuka mulutnya, ekspektasi penurunan suku bunga yang selama ini ada di benak banyak orang langsung sirna. Mimpi indah era Powell tentang penurunan suku bunga—jujur saja, semuanya berubah jadi angin lalu.
Orang ini nada bicaranya cukup tegas. Intinya, inflasi belum turun cukup cepat, dan The Fed sewaktu-waktu bisa menaikkan suku bunga. Pasar juga bergerak realistis: peluang kenaikan suku bunga pada bulan September langsung melonjak melewati setengah, dan sentimen pun beralih ke skenario pengencangan likuiditas.
Padahal, kalau Anda mengamati dengan teliti pergerakan pasar saham AS, Anda akan melihat bahwa krisis sudah tertulis sejak lama.
S&P 500 baru saja menembus rekor tertinggi, tetapi pembelian justru semakin terkonsentrasi. Tingkat penyimpangan antara harga dan keluasan pasar (market breadth) mencatat rekor dalam hampir tiga puluh tahun.
Yang paling lucu adalah mereka yang sebelumnya ikut-ikutan menggoreng AI. Dulu bahkan orang bisa menganggap babi pun bisa terbang. Sekarang sedikit saja suhunya mendingan, banyak orang langsung naik “roller coaster” yang sangat mengguncang di saham-saham perangkat keras—keuntungan di atas kertas belum sempat direalisasikan, lalu berbalik dan dibuang kembali.
Semua orang bertanya: apakah fase satu arah sudah berakhir? Lalu setelah ini, mengandalkan apa untuk menghasilkan uang?
Pikirkan begini: pada kondisi high-level yang bergejolak seperti ini, yang paling dihindari adalah menghamburkan semua modal pada satu arah saja. Saya akhir-akhir ini ngobrol dengan beberapa trader, dan justru mereka kembali membicarakan “portofolio investasi permanen” ala Brown yang sudah sangat lawas.
Logikanya sebenarnya sangat sederhana: saham, obligasi pemerintah jangka panjang, bitcoin, dan kas masing-masing 25%, lalu melakukan penyesuaian (rebalancing) secara berkala.
Keunggulan paling jitu dari mekanisme ini adalah ia memaksa Anda melakukan aksi jual saat harga tinggi dan beli saat harga turun—secara sistem. Ketika aset sedang meroket, Anda menjual sedikit. Saat aset benar-benar jatuh, Anda justru pergi mengakumulasi dan menambah posisi.
Begitu Wosh membuka mulutnya, ekspektasi penurunan suku bunga yang selama ini ada di benak banyak orang langsung sirna. Mimpi indah era Powell tentang penurunan suku bunga—jujur saja, semuanya berubah jadi angin lalu.
Orang ini nada bicaranya cukup tegas. Intinya, inflasi belum turun cukup cepat, dan The Fed sewaktu-waktu bisa menaikkan suku bunga. Pasar juga bergerak realistis: peluang kenaikan suku bunga pada bulan September langsung melonjak melewati setengah, dan sentimen pun beralih ke skenario pengencangan likuiditas.
Padahal, kalau Anda mengamati dengan teliti pergerakan pasar saham AS, Anda akan melihat bahwa krisis sudah tertulis sejak lama.
S&P 500 baru saja menembus rekor tertinggi, tetapi pembelian justru semakin terkonsentrasi. Tingkat penyimpangan antara harga dan keluasan pasar (market breadth) mencatat rekor dalam hampir tiga puluh tahun.
Yang paling lucu adalah mereka yang sebelumnya ikut-ikutan menggoreng AI. Dulu bahkan orang bisa menganggap babi pun bisa terbang. Sekarang sedikit saja suhunya mendingan, banyak orang langsung naik “roller coaster” yang sangat mengguncang di saham-saham perangkat keras—keuntungan di atas kertas belum sempat direalisasikan, lalu berbalik dan dibuang kembali.
Semua orang bertanya: apakah fase satu arah sudah berakhir? Lalu setelah ini, mengandalkan apa untuk menghasilkan uang?
Pikirkan begini: pada kondisi high-level yang bergejolak seperti ini, yang paling dihindari adalah menghamburkan semua modal pada satu arah saja. Saya akhir-akhir ini ngobrol dengan beberapa trader, dan justru mereka kembali membicarakan “portofolio investasi permanen” ala Brown yang sudah sangat lawas.
Logikanya sebenarnya sangat sederhana: saham, obligasi pemerintah jangka panjang, bitcoin, dan kas masing-masing 25%, lalu melakukan penyesuaian (rebalancing) secara berkala.
Keunggulan paling jitu dari mekanisme ini adalah ia memaksa Anda melakukan aksi jual saat harga tinggi dan beli saat harga turun—secara sistem. Ketika aset sedang meroket, Anda menjual sedikit. Saat aset benar-benar jatuh, Anda justru pergi mengakumulasi dan menambah posisi.
