#wti原油突破85美元
Saya merasa bahwa perdagangan pasar saat ini tidak hanya tentang “kenaikan harga minyak”, tetapi tentang penetapan ulang risiko Hormuz + ekspektasi inflasi yang kembali menguat. WTI terbaru sempat menyentuh 85,23 dolar, naik lebih dari 2% dalam sehari; Brent ikut melonjak menembus 90 dolar. Yang lebih penting, volume pelayaran yang melewati Hormuz masih jauh di bawah level normal: ekspor melalui selat tersebut pada bulan Agustus hanya sekitar 2,3 juta barel per hari, jauh lebih rendah daripada 4,49 juta barel per hari pada bulan Juli.
Masalahnya adalah, penguatan harga minyak lagi akan langsung menekan ekspektasi penurunan suku bunga—saat ini probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September yang diperkirakan pasar sudah naik menjadi 57%. Jadi, gelombang kali ini justru menjadi kabar baik untuk saham-saham energi dari sisi perbaikan ekspektasi laba; sementara untuk teknologi bervaluasi tinggi dan saham pertumbuhan, justru berarti terjadinya kompresi valuasi.
Saya cenderung memahaminya sebagai premi risiko geopolitik yang kembali muncul, bukan sebagai siklus sapi minyak super berikutnya. WTI pada pekan lalu baru ditutup di 83,40 dolar (turun 4,2% secara mingguan). Sekarang hanya dengan satu candle bullish sudah kembali menembus 85, yang menunjukkan jelas adanya short covering. Jika 85 bisa bertahan, langkah berikutnya yang akan diperdagangkan pasar adalah 90 bahkan 100 dolar; tetapi jika Hormuz pulih, maka 85 dolar justru akan berubah menjadi puncak sentimen untuk putaran kali ini.
Saya merasa bahwa perdagangan pasar saat ini tidak hanya tentang “kenaikan harga minyak”, tetapi tentang penetapan ulang risiko Hormuz + ekspektasi inflasi yang kembali menguat. WTI terbaru sempat menyentuh 85,23 dolar, naik lebih dari 2% dalam sehari; Brent ikut melonjak menembus 90 dolar. Yang lebih penting, volume pelayaran yang melewati Hormuz masih jauh di bawah level normal: ekspor melalui selat tersebut pada bulan Agustus hanya sekitar 2,3 juta barel per hari, jauh lebih rendah daripada 4,49 juta barel per hari pada bulan Juli.
Masalahnya adalah, penguatan harga minyak lagi akan langsung menekan ekspektasi penurunan suku bunga—saat ini probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September yang diperkirakan pasar sudah naik menjadi 57%. Jadi, gelombang kali ini justru menjadi kabar baik untuk saham-saham energi dari sisi perbaikan ekspektasi laba; sementara untuk teknologi bervaluasi tinggi dan saham pertumbuhan, justru berarti terjadinya kompresi valuasi.
Saya cenderung memahaminya sebagai premi risiko geopolitik yang kembali muncul, bukan sebagai siklus sapi minyak super berikutnya. WTI pada pekan lalu baru ditutup di 83,40 dolar (turun 4,2% secara mingguan). Sekarang hanya dengan satu candle bullish sudah kembali menembus 85, yang menunjukkan jelas adanya short covering. Jika 85 bisa bertahan, langkah berikutnya yang akan diperdagangkan pasar adalah 90 bahkan 100 dolar; tetapi jika Hormuz pulih, maka 85 dolar justru akan berubah menjadi puncak sentimen untuk putaran kali ini.