Di usia dua puluh sekian tahun, aku selalu takut tertinggal. Melihat orang lain dipromosikan, membeli rumah, menikah, berkeliling dunia—kecemasanku seperti semut di atas panci panas: rasanya ingin dalam semalam mengubah hidupku menjadi seperti punya orang lain.
Lalu perlahan aku paham, hidup bukanlah perlombaan, melainkan sebuah laku yang dijalani oleh diri sendiri. Ada yang tiga menit sudah menyeduh mi instan, ada yang tiga jam memasak sup; ada yang menikah dengan cinta pada usia dua puluh, ada yang baru pada usia empat puluh bertemu cinta sejati dalam hidup. Kamu memilih cara yang kamu inginkan—maka teguhkan hati, jangan terlalu banyak berkhayal.
Masa berbunga setiap orang berbeda, jadi tidak perlu cemas karena ada orang yang lebih dulu memiliki. Saat matahari turun ada cahaya bulan, ketika bulan terbenam datanglah cahaya fajar. Semua yang ada di dunia ini, akan memiliki jawaban yang seharusnya.
Jangan buru-buru, jalani pelan-pelan.
Kamu saja yang fokus untuk terus tumbuh, sisanya serahkan pada waktu.