Di satu sisi, bank terbesar Rusia, Sberbank, berencana memasukkan USDT sebagai agunan pinjaman.
Di sisi lain, ICBA AS menentang RUU CLARITY, memperingatkan bahwa stablecoin bisa menarik $1,3 triliun simpanan.

USDT terjepit di antara dua kekuatan yang saling berlawanan.
Satu pihak menganggapnya sebagai aset, sementara pihak lain melihatnya sebagai celah.

Penilaianku: langkah berikutnya USDT tidak ditentukan oleh harga, melainkan oleh siapa yang bisa memperoleh keuntungan dari “dolar digital”.

Pernyataan Sberbank bukan hanya bersumber dari satu pihak; ini menunjukkan bahwa institusi inti keuangan tradisional mulai menganggapnya sebagai aset yang bisa diagunkan.
Penolakan ICBA juga punya titik waktu yang spesifik: pemungutan suara Senat pada 15 September, yang kemungkinan bisa langsung mengubah aturan insentif stablecoin.
Ada juga satu kabar lain yang masih perlu diverifikasi: kelompok kriminal Israel diduga menggunakan USDT untuk pencucian uang, yang akan memberi lebih banyak alasan bagi regulator untuk memperketat.

Jadi, persoalannya bukan apakah USDT akan menghilang atau tidak, melainkan menjadi alat siapa.
Saat bank dan platform kripto sama-sama berebut kue yang sama, bisakah USDT tetap netral?