Di masa bull market, saya mengenal seorang teman yang jadi pelatih fitness. Dulu lingkaran pertemanannya penuh dengan gambar perbandingan murid-muridnya; belakangan semuanya berubah jadi screenshot portofolio. Dalam sehari bisa tujuh atau delapan posting. Logikanya begini: latihan kaki mana ada yang lebih “ber-leverage” daripada itu, latihan setahun untuk core belum tentu sematang makan satu hari yang penuh volatilitas. Waktu mengajar pun dia tetap memantau pasar. Saat squat, masih setengah jalan dia merogoh ponsel, cuma melirik—murid-murid sampai takut kalau kalimat berikutnya adalah, “Jangan bergerak, aku bisa meratakan posisi sekarang.”
Saat itu dia punya kalimat andalannya: setiap bertemu orang selalu bilang, “Kalau gelombang ini keluar, aku langsung cabut, pulang ke kampung, rebahan tenang, dan nggak akan sentuh lagi.” Dia pernah membuat aturan untuk dirinya sendiri: kalau profit berlipat dua, dia harus tarik uangnya untuk membeli satu mobil. Lalu ketika naik sampai dua kali, dia tidak menarik—katanya tunggu dulu. Setelah itu profit sempat turun lagi sampai mengembalikan separuh, dia tetap tidak pergi. Katanya, ini berarti belum sampai puncak. Pada masa itu, dia merasa siapa pun yang dia lihat pasti masih pemula. Bahkan pengumuman dari bursa pun berani dia uraikan untukmu jadi selisih informasi: tiga tingkat, sembilan lapis.
Begitu pergerakan pasar berubah, orangnya langsung jadi tenang. Di grup tidak ada obrolan, di status/chronicle dia disetel hanya bisa dilihat tiga hari. Posting terakhirnya tertinggal di tanggal tertentu pada bulan tertentu—berupa foto tampilan desktop larut malam sedang menatap layar, di sampingnya ada dua ekor kucing yang sedang jongkok. Minggu lalu saya ketemu dia di supermarket. Dia sedang mendorong kereta belanja, pakai hoodie lama, menatap perbandingan dua kotak yoghurt yang hampir kedaluwarsa. Dia bilang kontraknya sudah lebih dulu “meledak”; sekarang hanya beli spot. Saya tanya, belakangan masih memantau pasar? Dia bilang kadang-kadang saja. Saya tanya lagi, apakah dia masih orang yang dulu bilang ingin meraih kebebasan finansial? Dia melirik ke kereta belanjanya, lalu berkata, “Yang aku mau cuma balik modal. Begitu balik modal beneran nggak sentuh lagi.”
Di bull market, orang yang berani pakai modal untuk bertaruh agar bisa berbalik—kalau dilihat ke belakang, tampaknya tidak ada penyesalan besar. Yang paling sering dia gumamkan malah, “Rugi waktu itu kok bisa sampai segitu?” Saat harga berubah, semuanya berubah. Dan kalimat “habisin yang ini terus cabut” berganti lagi—dan lagi—dan lagi, jadi semacam sup yang sama tapi dipanaskan ulang.
Kamu di bull market, dan kamu di bear market—apakah orang yang sama?
#币圈故事 #kemanusiaan
Saat itu dia punya kalimat andalannya: setiap bertemu orang selalu bilang, “Kalau gelombang ini keluar, aku langsung cabut, pulang ke kampung, rebahan tenang, dan nggak akan sentuh lagi.” Dia pernah membuat aturan untuk dirinya sendiri: kalau profit berlipat dua, dia harus tarik uangnya untuk membeli satu mobil. Lalu ketika naik sampai dua kali, dia tidak menarik—katanya tunggu dulu. Setelah itu profit sempat turun lagi sampai mengembalikan separuh, dia tetap tidak pergi. Katanya, ini berarti belum sampai puncak. Pada masa itu, dia merasa siapa pun yang dia lihat pasti masih pemula. Bahkan pengumuman dari bursa pun berani dia uraikan untukmu jadi selisih informasi: tiga tingkat, sembilan lapis.
Begitu pergerakan pasar berubah, orangnya langsung jadi tenang. Di grup tidak ada obrolan, di status/chronicle dia disetel hanya bisa dilihat tiga hari. Posting terakhirnya tertinggal di tanggal tertentu pada bulan tertentu—berupa foto tampilan desktop larut malam sedang menatap layar, di sampingnya ada dua ekor kucing yang sedang jongkok. Minggu lalu saya ketemu dia di supermarket. Dia sedang mendorong kereta belanja, pakai hoodie lama, menatap perbandingan dua kotak yoghurt yang hampir kedaluwarsa. Dia bilang kontraknya sudah lebih dulu “meledak”; sekarang hanya beli spot. Saya tanya, belakangan masih memantau pasar? Dia bilang kadang-kadang saja. Saya tanya lagi, apakah dia masih orang yang dulu bilang ingin meraih kebebasan finansial? Dia melirik ke kereta belanjanya, lalu berkata, “Yang aku mau cuma balik modal. Begitu balik modal beneran nggak sentuh lagi.”
Di bull market, orang yang berani pakai modal untuk bertaruh agar bisa berbalik—kalau dilihat ke belakang, tampaknya tidak ada penyesalan besar. Yang paling sering dia gumamkan malah, “Rugi waktu itu kok bisa sampai segitu?” Saat harga berubah, semuanya berubah. Dan kalimat “habisin yang ini terus cabut” berganti lagi—dan lagi—dan lagi, jadi semacam sup yang sama tapi dipanaskan ulang.
Kamu di bull market, dan kamu di bear market—apakah orang yang sama?
#币圈故事 #kemanusiaan