#JCT Hari ini ada seorang teman bertanya kepadaku:

“JCT terus turun. Kenapa kamu masih memegangnya? Kenapa tidak dijual?”

Sebenarnya tidak ada logika yang rumit.

Karena sejak aku membelinya, aku sudah menerima kemungkinan hasil terburuk: nilainya bisa saja menjadi nol.

Syaratku untuk membeli koin abal-abal (altcoin) selalu sederhana: gunakan mindset siap rugi hingga nol, gunakan uang yang tidak mengganggu kebutuhan, jangan pakai leverage (margin), jangan utang, dan tentu saja tidak akan melakukan all-in.

Jadi penurunan jangka pendek 20%, 30%, bahkan lebih, tidak mengubah secara mendasar logika tradingku.

Karena yang kubeli adalah spot.

Kalau harganya turun, jumlah yang aku pegang tidak akan berkurang hanya karena harga turun; kalau harganya naik dua kali lipat, aku dulu ambil kembali modalnya, dan sisanya kusingerahkan pada pasar untuk menentukan sejauh mana aset itu akhirnya bisa melangkah.

Tapi di sini ada perbedaan yang sangat penting:

Mindset siap nol tidak berarti aku percaya bahwa itu pasti tidak akan jadi nol.

Justru sebaliknya—karena aku tahu probabilitas altcoin menjadi nol tidak kecil, maka aku hanya ikut bermain dengan uang yang memang sanggup aku pertaruhkan sampai nol.

Aku tidak pernah perlu membuktikan bahwa aku pasti benar.

Kalau benar, dapatkan keuntungan berupa peluang (odds);
kalau salah, tanggung risikonya.

Tanpa leverage, tanpa utang, maka tidak ada situasi di mana karena satu kesalahan penilaian aku dipaksa sampai pada posisi harus cut loss.

Jadi, ketika aku membeli altcoin, yang sebenarnya sedang aku pertaruhkan bukanlah “koin ini pasti akan naik”.

Aku hanya menukar kemungkinan keuntungan yang asimetris dengan kerugian yang terbatas.

Itulah juga mengapa ketika harga makin turun, aku justru tidak akan mengubah aturan trading awal hanya karena emosi.

Sebelum membeli, terima kemungkinan jadi nol; kalau naik, ambil kembali modal; sisanya serahkan pada waktu.

Itulah prinsip trading yang selalu kuberharap untuk kujalankan.