Gambaran Pasar Logam, 24–29 Agustus: Emas dan Perak Turun saat Tembaga dan Seng Tetap Tangguh
🥇 Emas berakhir lebih rendah sekitar 3% setelah sempat mencapai sekitar $4.696, level tertingginya dalam lebih dari tiga bulan. Pada 28 Agustus, pernyataan hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh mendorong imbal hasil U.S. Treasury tenor 2 tahun menuju 4,35%, memicu penurunan tajam emas terbesar dalam sekitar enam minggu. Perak jatuh bahkan lebih dalam, turun sekitar 3,5–4,3% pada Jumat.
📉 Meski terjadi aksi jual, emas masih naik sekitar 11% sepanjang bulan Agustus. Pergerakan tersebut tampaknya lebih seperti penyesuaian ulang perkiraan suku bunga AS, yang diperkuat oleh posisi spekulatif yang sudah padat, bukan pembalikan penuh terhadap tren besar logam mulia.
🏭 Tembaga bertahan lebih baik karena ketatnya pasar fisik tetap memberi dukungan. Inventaris LME yang tersedia turun menjadi sekitar 107.050 ton, sementara stok SHFE turun 19,1% menjadi 72.428 ton. Tembaga COMEX hanya turun tipis pada Jumat, menunjukkan bahwa dinamika persediaan dan arus logam masih lebih dominan dibanding tekanan suku bunga.
⚙️ Seng menjadi yang paling menonjol di antara logam dasar, dengan harga LME mencapai level tertinggi sejak Mei 2022. Inventaris yang tersedia turun menjadi sekitar 75.600 ton, setara kira-kira dua hari konsumsi global, sementara backwardation terus menandakan pasokan jangka pendek yang ketat.
🔄 Palladium juga bergerak berbeda, naik lebih dari 5% pada 28 Agustus saat emas dan perak jatuh. Penutupan posisi short dan profil industrialnya yang lebih kuat kemungkinan turut mendorong kenaikan tersebut.
📊 Pekan ini menyoroti dua pendorong berbeda di seluruh komoditas logam. Emas dan perak tetap sensitif terhadap suku bunga, imbal hasil, dan dolar, sedangkan tembaga dan seng lebih digerakkan oleh inventaris dan pasokan fisik. Data payroll AS akan menjadi kunci bagi logam mulia minggu depan, sementara stok LME dan SHFE tetap menjadi pusat perhatian untuk tembaga dan seng.
#Metals $XAU $XAG $COPPER
🥇 Emas berakhir lebih rendah sekitar 3% setelah sempat mencapai sekitar $4.696, level tertingginya dalam lebih dari tiga bulan. Pada 28 Agustus, pernyataan hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh mendorong imbal hasil U.S. Treasury tenor 2 tahun menuju 4,35%, memicu penurunan tajam emas terbesar dalam sekitar enam minggu. Perak jatuh bahkan lebih dalam, turun sekitar 3,5–4,3% pada Jumat.
📉 Meski terjadi aksi jual, emas masih naik sekitar 11% sepanjang bulan Agustus. Pergerakan tersebut tampaknya lebih seperti penyesuaian ulang perkiraan suku bunga AS, yang diperkuat oleh posisi spekulatif yang sudah padat, bukan pembalikan penuh terhadap tren besar logam mulia.
🏭 Tembaga bertahan lebih baik karena ketatnya pasar fisik tetap memberi dukungan. Inventaris LME yang tersedia turun menjadi sekitar 107.050 ton, sementara stok SHFE turun 19,1% menjadi 72.428 ton. Tembaga COMEX hanya turun tipis pada Jumat, menunjukkan bahwa dinamika persediaan dan arus logam masih lebih dominan dibanding tekanan suku bunga.
⚙️ Seng menjadi yang paling menonjol di antara logam dasar, dengan harga LME mencapai level tertinggi sejak Mei 2022. Inventaris yang tersedia turun menjadi sekitar 75.600 ton, setara kira-kira dua hari konsumsi global, sementara backwardation terus menandakan pasokan jangka pendek yang ketat.
🔄 Palladium juga bergerak berbeda, naik lebih dari 5% pada 28 Agustus saat emas dan perak jatuh. Penutupan posisi short dan profil industrialnya yang lebih kuat kemungkinan turut mendorong kenaikan tersebut.
📊 Pekan ini menyoroti dua pendorong berbeda di seluruh komoditas logam. Emas dan perak tetap sensitif terhadap suku bunga, imbal hasil, dan dolar, sedangkan tembaga dan seng lebih digerakkan oleh inventaris dan pasokan fisik. Data payroll AS akan menjadi kunci bagi logam mulia minggu depan, sementara stok LME dan SHFE tetap menjadi pusat perhatian untuk tembaga dan seng.
#Metals $XAU $XAG $COPPER
