Pahami kurs valuta asing dalam sekali napas: kenapa dolar AS, yen, dan yuan bisa naik-turun?

Banyak orang saat mendengar “valuta asing” merasa itu jauh dari kehidupan mereka, seolah hanya urusan bank sentral dan Wall Street. Padahal tidak.

Naik-turunnya kurs bisa memengaruhi pesanan pabrik ekspor, harga barang impor, biaya untuk kuliah atau traveling ke luar negeri, bahkan ikut menentukan apakah mata pencaharian kita terjaga.

Lalu, bagaimana melihat kurs dengan benar? Ingat 3 kata saja: harga, selisih suku bunga, dan kepercayaan.

1) Pahami dulu arah kurs Contoh: USD/CNY = 7, artinya:

1 dolar AS = 7 yuan.

Kalau angka itu naik dari 7 ke 7,3, berarti 1 dolar AS bisa ditukar dengan lebih banyak yuan. Ini disebut dolar AS menguat dan yuan melemah.

Kalau dari 7 turun ke 6,8, berarti dolar AS melemah dan yuan menguat.

Jadi saat melihat kurs, tanyakan dulu pada diri sendiri: ini dilihat dari sudut pandang siapa?

2) Dalam jangka panjang lihat harga: siapa yang lebih murah, dialah yang lebih berpeluang menguat. Intinya pedagang zaman dulu pergi ke negara lain untuk berdagang karena di sana bisa membeli dengan harga lebih murah.

Kalau suatu negara barangnya murah, semua orang akan membeli barang dari negara itu, sehingga kebutuhan akan mata uang negara tersebut meningkat. Lama-kelamaan, mata uang negara itu pun lebih mudah menguat.

Ini logika sederhana “paritas daya beli”.

Sederhananya:

Negara dengan harga rendah, ekspor kuat, dan surplus perdagangan besar akan menghadapi tekanan menguat yang lebih besar dalam jangka panjang. Negara dengan harga tinggi, impor besar, dan defisit perdagangan besar akan menghadapi tekanan melemah yang lebih besar dalam jangka panjang.

Tapi ini adalah faktor lambat (slow variable), bukan berarti hari ini harga rendah besok kurs langsung naik.

3) Dalam jangka pendek lihat selisih suku bunga: uang suka “lari” ke tempat yang suku bunganya lebih tinggi, dan itu nyata.

Di mana bunganya tinggi, uang akan ke sana.

Contoh: suku bunga Jepang mendekati 0, sedangkan AS 5%. Banyak dana akan meminjam yen yang murah, menukarnya menjadi dolar AS, lalu menikmati bunga tinggi di AS.

Ini disebut transaksi carry trade.

Karena itu, dalam jangka pendek kurs sering mengikuti perbedaan suku bunga:

Mata uang dengan suku bunga tinggi lebih mudah menguat, sedangkan mata uang dengan suku bunga rendah lebih mudah melemah.

Inilah juga mengapa di periode kenaikan suku bunga AS, dolar AS biasanya kuat; sedangkan Jepang bertahun-tahun dengan suku bunga rendah membuat yen lebih tertekan.

4) Di momen krusial lihat kepercayaan: bunga setinggi apa pun tidak ada artinya kalau orang tidak percaya.

Namun selisih suku bunga bukan segalanya.

Argentina pernah mendorong suku bunga sampai lebih dari 100%, tapi peso tetap saja ambruk. Kenapa?

Karena pasar tidak mempercayainya.

Semua orang khawatir negara itu akan mencetak uang, mengingkari utang, atau menerapkan kontrol valuta. Jadi meski bunganya tinggi, orang tetap tidak berani membeli.

Karena itu kata ketiga yang paling penting adalah: kepercayaan.

Kalau ekonomi negara stabil, bank sentral dapat dipercaya, utang bisa dikendalikan, dan politik stabil, mata uang akan lebih mudah dipercaya. Sebaliknya, jika inflasi tidak terkendali, utang luar negeri tinggi, dan kebijakan kacau, mata uang lebih mudah melemah.

5) Naik-turunnya yuan, apa dampaknya bagi orang biasa?

Kalau yuan menguat:

- biaya liburan dan studi ke luar negeri lebih murah
- belanja online luar negeri/impot lebih murah (bahan bakar minyak, kedelai, bahan baku lebih murah)
- membantu menekan inflasi berbasis impor
- tapi tekanan bagi perusahaan ekspor akan meningkat

Kalau yuan melemah:

- perusahaan ekspor lebih kompetitif
- pabrik perdagangan luar negeri dan lapangan kerja terkait dapat manfaat
- tapi barang impor jadi lebih mahal
- biaya pergi ke luar negeri dan belanja online luar negeri meningkat

Jadi, tidak ada yang benar-benar “mutlak” baik atau buruk: menguat atau melemah hanya menentukan siapa yang diuntungkan.

Kesimpulan: nanti lihat lagi kurs, jangan panik.

Ingat kerangka ini:

Dalam jangka panjang lihat harga, dalam jangka pendek lihat selisih suku bunga, saat krisis lihat kepercayaan.

Ke mana arus uang mengalir, mata uang di sana lebih mudah menguat.

Kurs valuta asing tidak sesederhana itu misterius—pada dasarnya itu adalah “pemungutan suara” dari dana global.